Thursday, August 1, 2013

Seri #3 - Fitnah

FITNAH 


ilustrasi
Pedagang Kopra yang berambisi menjadi yang paling sukses. Hingga akhirnya ia meminta bantuan seorang bromocorah kelas kakap untuk melancarkan ambisinya. Bagaimana perjuangan Pak Katiman menghadapi Mbok Tinah dan Modo? Apa saja yang dilakukan Pak Katiman untuk mencegah ambisi Mbok Tinah yang semakin menggila? Benda bertuahkah yang membantunya menghadapi Modo?


(marci)






            Perdagangan kopra Pak Katiman dan Mbok Katiman semakin membengkak dan menjadi-jadi, keuntungan yang diperoleh tidak ekaan,puluhan, atau ratusan saja namun melambung hingga ribuan rupiah pada masa itu. Bakul  kopra yang telah lama pun tertinggal jauh darinya. Pedagang kelapa rombengan dan para pemilik kelapa yang sedikit maupun yang banyak baru merasa aman apabila kelapa mereka dibeli oleh Pak Katiman.
           Perolehan kelapa Pak Katiman puluhan ribu butir sedang bakul kelapa lainnya paling banyak hanya sekitaran lima ribu butir saja. Untuk sawah saja sudah lebih dari lima hektar  dan pekarangan mencapai dua hektar yang hanya mereka beli dalam kurun sedekade. Rumah tempat tinggalnya yang dulu hanya dua buah kini beranak menjadi empat buah ditambah sebuah gudang besar yang memanjang  di muka rumah juga sebuah kandang lembu yang dihuni setidaknya enam buah lembu komplit dengan cikarnya.
            Pekarangan tempat tinggalnya yang mula-mula lebarnya hanya seratus lima puluh meter persegi kini telah menjadi lima ratus meter persegi. Pekerja harian pun tak mau ketinggalan bertambah dari yang tadinya sekitar dua hingga lima menjadi lebih dari tiga puluh orang. Itu hanya pekerja dalam mengelola kelapanya saja belum terhitung pekerja dalam bidang taninya.
            Anak mereka juga turut bertambah. Jika pada mula membangun hunian baru beranak satu maka sekarang sudah tiga lebih. Bersamaan dengan itu, pikiran mereka sudah tidak hanya terfokus pada usaha dagangan dan pertanian saja, namun meluas kepemikiran lain, diantarap anaknyanya mencarikan teman perempuannya yang sudah mendekati dewasa, biaya sekolah anak-anak mereka, dan banyak yang lain. Maka tidak heran apabila ada sejumlah bakul  yang menaruh iri dan dengki atas keberhasilan keluarga Pak Samin.
“Apa saja rahasia kesuksesan dan keberhasilan keluarga si Katiman itu? Kerja keras, kejujuran? Ah kalau itu akupun demikian bahkan lebih hebat daripada mereka. Tentu ada hal-hal lain yang membuntutinya. Setan, tuyul  atau apalah sejenisnya. Ini tidak bisa dibiarkan, harus dicegah dan dihentikan” kata hati Mbok Tinah di siang hari nan cerah ditaburi gumpalan awan putih disana-sini sedang ia duduk di muka pintu dapurnya dihadapan orang-orang yang sedang mengupas kulit kelapa.
              Mbok Tinah sendiri adalah salah seorang pedagang diantara pedagang kopra di desa Pak Katiman.  Ia juga dikenal sebagai pedagang yang cukup ulung.
“Tahukah kau semua, apa rahasia sukses Katiman dalam usaha kopranya?” tanyak Mbok Tinah kepada orang-orang dihadapannya.
“Kejujuran, kerja keras, menepati janji mbok!” jawab salah seorang dari mereka.
“Itu benar, tapi maksudku ada yang lain mungkin?”  tutur Mbok Tinah berikutnya.
“Hal lain, maksudnya?” kata beberapa pekerja.
“Ya… apalah tuyul, setan berangkali” Mbok Tinah memadatkan topik pembicaraannya.
“Setan  kan tidak dapat dilihat kasat mata, tapi tanda-tanda keberadaanya bisa dirasakan bukan?. Oh iya apa kalian tau dikamar induk  Klatik istri Katiman, disitu disediakan beberapa buah pithi untuk tempat uang. Disamping pithi-pithi itu ada periuk yang terbuat dari tanah liat yang berisi bunga-bungaan. Nah! Didekat periuk itulah diletakan sebuah gentong besar untuk membakar kemenyan. Disitu pula disediakan tikar dan bantal guling untuk menyusui tuyul-tuyul dan di malam jum’at leginya setelah menyusui tuyul lalu mereka membakar kemenyan diatas genteng besar.  Kemudian tuyul-tuyul tersebut menghilang sambil membawa pithi yang telah disediakan itu” tandasnya panjang lebar meyakinkan.
“Sungguh aneh bin ajaib, mbakyu  ini kok pandai mengada-ada hal yang tidak ada menjadi ada. Memang sudah tahu sendiri mbakyu dengan hal itu? Apa hanya cerita dari orang yang suka berbohong dan membual kesana kemari saja?” tanya salah seorang pekerja dengan hati yang mendongkol.
“Ai, ai kau rupanya antek-antek si Klatik ya. Mendapat hidayah apa kau darinya?” tanya Mbok Tinah dengan tatapan tajam pada pekerja tersebut.
“Jangan salah paham mbakyu, saya tidak mendapat apa-apa dari dia. Saya berkata begitu sebab saya yang setiap disana masuk keluar kamar yang mbakyu katakan itu sedang jauh dari kenyataan yang saya pahami. Untuk dua periuk besar yang ada di  kamar wetan itu berisi beras sedang pithi, gentong besar, juga periuk lainnya itu berisi kembang dan lain-lain yang mbakyu katakana sama sekali tidak saya lihat” pekerja tersebut menerangkan.
“Barang-barang tersebut adalah barang-barang ghaib yaitu barang-barang kepunyaan makhluk halus laksana tuyul , jin, genderuwo sehingga orang biasa belum dapat mencapainya. Jika hendak terbuka mata batinnya mak harus bertapa atau menjalankan ritual-ritual khusus”  tambah Mbok Tinah memantapkan omongannya.
“Aku bisa menguatkan akan ceritaku ini yaitu dari Pak Legi yang pada malam jum’at legi sekitar jam dua malam ia melihat dengan mata inderanya sendiri sendiri, sejumlah anak kecil masing-masing membawa sebuah pithi  entah berisi apa, ya bisa saja itu berisi uang hasil curian. Lalu Pak Legi menyapa anak-anak itu namun mereka malah berlari menuju rumah Klatik lalu lenyap. Kalau kau tak percaya certitaku kau bisa bertanya sendiri. Orangnya msih hidup rumahnya dimuka rumah si Klatik ” ungkap Mbok berbadan kurus ini  selanjutnya.
“Bila cerita aneh ini menyebar kemana-mana, apakah Kang Katiman tidak akan mencari siapa yang menjadi sumber penyebarannya? Dan apabila telah diketahui dalangnya maka ia akan berusaha memberantas. Apakah ini nantinya tidak akan menimbulkan ontran-ontran di desa kita?” jelas pekerja itu mencoba memadamkan cerita wanita berbibir tipis itu.
“Biarkan saja timbul ontran-ontran aku merasa ini benar dan penduduk yang melalkukan hal demikian harus diberantas pula. Aku pun telah siap dengan segala resiko. Aku tak gentar dengan sebuah kebenaran yang kupahami” kata Mbok Tinah penuh emosi dan tanpa banyak pikir.
“Terserah mbakyu”  kata pekerja itu mengakhiri percakapan mereka.
            Maka seperti pepatah ‘wong becik ketithik, wong ala ketoro’ maka bagi orang baik akan terlihat kebaikannya sedang orang buruk akan terungkap pula keburukannya.
            Ternyata cerita Mbok Tinah telah diomongkan dimana-mana di pasar, dipejagongan manten, diwaktu ia berjualan kopra dan dimana saja ia berada tentu diceritakanlah kepada orang-orang yang diajak bercakapan.  Juragan kopra pun juga tak ketinggalan diceritainya. Namun juragan tersebut menegur Mbok Tinah agar supaya tidak menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.
            Pak Katiman dan Mbok Katiman pun sesungguhnya telah mendengar fitnahan itu baik dari para pekerja, teman sepedagangan maupun sanak keluarga dan handai tolannya tetapi mereka tetap membungkam seakan-akan belum mendengar cerita bohong itu.
“Biar ia menyebarkan kata-kata beracun itu sepuas hatinya, orang bijak tentu dapat menilai siapa, bagaimana, dan untuk apa kata beracun itu disebarkan?” ujar Mbok Katiman kepada Pak Katiman juga ke pekerja yang sedang mengupas kulit di pendoponya.
“Tak perlu aku menanggapi gossip burung seperti itu, bila sudah payah tentu akan berhenti dengan sendirinya” lanjut Pak Katiman
 “Sungguh berbudi luhur Pak Katiman ini, bisa-bisanya sabar menghadapi cobaan seperti ini” puji salah seorang pekerja.
              Cerita burung itu tidak hanya sampai kepada rakyat umum saja namun sudah sampai kepada pegawai-pegawai pemerintah Hindia Belanda, hal tersebut diungkap oleh dua anak si Katiman yang bernama Samijan dan Sukar yang masih duduk dibangku Sekolah Rakyat di desanya. Kemudian dipanggilah mereka berdua oleh gurunya yang menanyakan benar tidaknya kabar jikalau orang tuanya memelihara anak-anak kecil yang membawa pithi. Lalu kedua anak tersebut menjawab jikalau mereka tidak pernah melihat anak kecil selain saudara-saudara mereka.
             Sekalipun cerita Mbok Tinah telah menyusup kecelah-celah pribadi rakyat umum maupun pegawai pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, namun nampaknya Mbok Tinah belum merasa puas jika ceritanya hanya berimbas pada nama baik keluarga Katiman, dia berharap jika ceritanya tersebut juga berimbas pada harta benda Pak Katiman.
              Keesokan harinya tepat waktu malam, Mbok Tinah menemui Modo untuk meminta bantuan. Modo sendiri adalah seorang bromocorah, penyiksa, dan pembunuh. Ia baru saja keluar dari Nusakambangan karena peristiwa perampokan dan pembunuhan.

Kebengisan si Modo

“Kang Modo!” kata Kiman, anak buah Modo dipersimpangan jalan di desanya.
“Relakah jika kekasihmu diterkam oleh pria lain?” Tanya Kiman pada Modo.
“Ya, tentu tidaklah man. Memang kenapa?” sahut si pria berbadan kekar pendek dan beralis tebal itu.
“Baik akan kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Rondo Kuning selama kakang di Nusakambangan” kata Kiman seterusnya.
“Ceritakan apa yang kau lihat pada kekasihku, namun jangan sekali-kali kau mengada-ada bila itu terjadi bogem akan melayang padamu” ujar pria berkulit hitam legam dan bermulut lebar ini sangat penasaran.
“Aku berani bersumpah dan menerima segala akibatnya bila apa yang saya ceritakan ini tidaklah benar” tandas Kiman meyakinkan.
“Sudah berkali-kali aku melihat dan mengintip kekasihmu tidur dalam satu dipan dengan si Kuntet. Berkali-kali pula aku peringatkan kepadanya untuk tidak mengganggu Mbok Rondo Kuning kekasih Kang Modo sebab akibatnya dahsyat sekali jikalau Kang Modo sudah kembali dari pengasingannya. Mendengar hal itu si Kuntet malah membandel, ia mengejekku  jika aku tak usah mempedulikannya, toh itukan tanggung jawabnya. Dia juga mempersilahkan aku untuk berhubungan dengan kekasihmu asal si Rondo Kuningmu mau. Sakit hatiku pun sampai sekarang belum sirna, aku katakan saja padanya jika perbuatannya ini akan kulaporkan pada Kang Modo. Tapi dia malah menjawab sinis dan mengancam tidak takut atas pelaporanku nanti pada Kang Modo” cerita si Kiman panjang.
“Sekali lagi kisahmu ini dapat dipertanggungjawabkan dank au berani menanggung akibatnya jika ini tidak benar” Modo mencoba meyakinkan atas kebenaran cerita yang diungkap Kiman dengan nada yang tinggi.
“Benar Kang! Aku berani menanggung akibatnya bila penjelasanku tidaklah benar” Kiman menyahuti.
“Kalau begitu gila benar si Kuntet. Akan kuhajar habis-habisan ia” Kata Modo geram.
“Ayo kita ke rumahnya dan kita seret ia ketengah-tengah sawah untuk menerima akibat dari perbuatannya” ujar Modo dengan suara santar.
            Sebenarnya ada masalah pribadi antara Kiman dan Kuntet. Sudah sejak lama mereka bertengkar. Permasalahnnya adalah wanita, pekerja, dan lain sebagainya. Dan itu berita burung yang disampaikannya merupakan langkah yang tepat bagi Kiman untuk membalaskan dendamnya pada Kuntet.  
            Berkisar seratus meter dari rumah Mbok Rondo Kuning berdirilah sebuah rumah kecil berdinding bambu miring kekiri diatas tanah seluas sepuluh meter persegi. Dan disanalah rumah keluarga Kuntet.
            Pikiran Kuntet malam itu melayang kemana-mana, debur jantungnya semakin menderu, was-was menggeluti hatinya nun disana, alunan suara burung hantu memecah lazuardi diselingi suara gemak takut injakan manusia di dalam malam sunyi. Alunan pikiran yang tak mengarah itu dicobanya untuk dihentikan tetapi sia-sia belaka, matanya ditutup-tutupkan agar lekas tidur namun juga tak berdaya pula, anehnya sejak sore sampai larut malam tangis anak bungsunya tak kunjung berhenti.
“Akan ada apa malam ini?” celetuk hatinya.
“Tok…tok…tok…” terdengar suara pintu yang diketuk seseorang.
“Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Kuntet.
“Aku Modo, lekas keluar kau” sahut Modo membentak.
“Mengapa malam-malam buta ia dating kemari? Apa Yu Rondo Kuning kumat encoknya lalu aku disuruhnya memanggil Nyi Sinto dukun pijat. Atau jangan-jangan ia sakit lalu aku disuruh untuk membeli obat. Tapi mana ada took obat malam-malam begini yang buka. Tentu ada yang lain, Ngalamat apa ini kok tiba-tiba denyut hatiku menjadi-jadi” batinnya berbisik ketakutan.
            Dengan tergopoh-gopoh ia membukakan pintu terus menuju ke posisi Modo berdiri.
“Ayo turut aku!” perintahnya pada Kuntet.
“Ada apa to Kang Modo?” tanya Kuntet terbata-bata.
“Kalau sudah sampai di tengah sawah utara kau juga akan tahu !” jawab si pria berdahi menonjol ini.
            Sesaat setelah mereka berjalan akhirnya tibalah perbincangan mereka di tengah sawah.
“Nah sekarang sudah sampai ditengah sawah, jawablah pertanyaanku secara benar, bila kau menjawab pertanyaanku dengan berbohong kau akan menerima bogemku. Istrimu satu-satunya orang di dunia ini yang kau kasihi kan? Bagaimana kalau ia sampai diambil pria lain? ” sahut Modo.
“Iya kang. Jelas tidak boleh jika ia sampai berpaling ke pria lain, akan ku bela mati-matian hingga ‘sedumuk bathuk senyari bumi’” jawab si Kuntet tegas.
“Kau tahu Mbok Rondo Kuning adalah kekasihku, bagaimana rasa hatiku bila ia dibuat mainan orang lain?” Tanya Modo.
“Tentu saja Kang Modo tidak rela dan minta pertanggung jawaban dari orang itu” jelas di Kuntet.
“Nah, sekarang aku minta pertanggung jawaban atas perbuatan terkutukmu itu!” Kata si Modo.
“Perbuatan terkutuk yang mana kang?” Tanya Kuntet semakin bingung.
“Kau jangan pura-pura tidak tahu, sok tidak berbuat…….” Geretak Modo sambil mengayunkan tangan kanannya kepipi Kuntet.
“Ampun kang……….. sakit…………………….” Kuntetpun terjatuh ke tanah.
“Ini baru ayunan tangan terbuka kau sudah sambatí, belum amukan bogemku” gertak Modo geramnya.
            Kuntet yang kecil, kurus, penakut berhadapan dengan Modo yang berbadan besar, berotot kekar, dan bermental keras lakana kucing yang bertemu seekor tikus. Tentu bukanlah tandinganya si Modo untuk Kuntet.
“Katakan sudah berapa kali kau menjamah badan si Kuning? Jika kau tak berterus terang bogemku akan melayang” bentak Modo.
“Kang Modo. Sama sekali belum pernah aku menjamah badan Yu Kuning, mana ia mau denganku dan juga apa yang diharapkan dariku. Aku ini tak bukan hanya seorang pesuruh, selain itu rupa dan harta benda tak ada padaku” jawab Kuntet merintih kesakitan.
“Halah! Kau masih mungkir saja. Katakan terus terang sekarang juga!” teriak si Modo pada Kuntet.
            Tak mendapat jawaban sesuai apa yang dikehendaki, Modo lantas menghajar Kuntet hingga babak belur. Tak hanya berhenti disitu saja perlakuan yang diterima Kuntet. Sekarang ia dibawa menuju tengah-tengah desa, kemudian ia disuruh masuk pekarangan. Di sebuah pohon di pekarangan itu ia diikat.
“Kau telah saya ikat, kau tak boleh berteriak meminta tolong ataupun lari dari sini sebelum ada izin dariku. Sekali lagi saya ulangi pertanyaanku sudah berapa kali kau menjamah tubuh di Kuning? Jawab saja terus terang, bila tidak akibatnya akan kau rasakan nanti” tegas Modo.
“Kang Modo aku berani mengucap sumpah dihadapanmu ‘Demi Tuhan, tanah, bintang, dan langit, pohon-pohon disekelilingku ini bila aku telah berbuat serong terhadap Yu Kuning aku bersedia disambar Guntur sekalipun atau digigit ular sampai mati. Inilah sumpah yang saya ucapkan sesungguhnya tinggal Kakang percaya atau tidak. Sedangkan orang yang melaporkan berita ini kepadamu sesungguhnya ia telah berbuat fitnah” kata Kuntet dengan yakin sambil bercucuran air mata.
             Hati Modo mulai tergerak dan dalam hatinya mulai menimbang-nimbang antara sumpah si Kiman dengan sumpah si Kuntet.
“Tapi Kiman belum mengucapkan sumpah ia hanya mengungkapkan jika ia berani menanggung sumpah sedang Kuntet jelas-jelas mengucapkan sumpah dengan berani menanggung akibat sumpah yang diucapkan itu. Lagipula aku belum menanyakan ini pada Roro Kuning. Aku juga tidak yakin jika si Kuntet berani berbuat sekeji itu terhadap calon kekasihku” hatinya berbisik.
“Apakah Kuntet berani bersumpah yang demikian berat hanya karena ia takut denganku, tapi Kiman tahu dengan mata kepalanya sendiri dan ia melihat tidak hanya sekali, dua kali, namun berkali-kali. Jadi menurutku Kiman lebih dapat aku percaya” celetuk hati kecilnya menambahkan.
“Katakanlah terus terang saja jangan bersumpah yang tidak-tidak kau! Aku akan nantikan kebenaran darimu sejam dari sekarang, bila dalam waktu sejam kau tak berterus terang sekali lagi aku katakan kau rasakan akibatnya! Sekarang aku pergi sebentar dan akan kembali kesini, kau tak boleh berteriak ataupun melarikan diri. Bila kau langgar perintahku kakimu akan kupatahkan dan darahmu akan ku minum” jelas Modo mengancam Kuntet agar mengaku.
“Bila aku mengaku berbuat, pasti akibatnya lebih berat lagi mungkin tangan dan kakiku dipatahkannya atau mungkin aku dihajar sehebat-hebatnya sedang kenyataannya aku tak melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Tapi bila aku berkata tidak berbuat ia juga tetap kencang dengan pemikirannya jika aku telah bersetubuh dengan pujaan hatinya. Sebenarnya siapakah yang membuat gara-gara ini? Mungkinkah Kiman, dia hendak balas dendam padaku” kata hatinya sambil melamun selama sejam.
            Tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya setelah mendengar hardik Modo.
“Kuntet kini waktunya telah tiba. Tinggal ada dua pilihan berbuat atau tidak berbuat! Pilih sekarang juga” getaknya sambil mengacungkan belati.
“Tidak berbuat!” balas si Kuntet.
“Cas……” kupingnya dipotong oleh Modo.
“Bedebah! Rasakan hadiah dariku karena perbuatanmu yang terkutuk selama ini dan kau kulepas asal kau tidak boleh berteriak minta tolong juga tak boleh melaporkan hal ini pada polisi. Apabila laranganku ini kau langgar, bersiaplah menerima hadiah yang lebih besar dari ini. Camkan kata-kataku ini!” titahnya sembari melepas tali yang mengikat dan menyuruhnya pulang.
            Kuntet pun berjalan terhuyun-huyun meninggalkan pekarangan itu dengan tangannya yang berlumuran darah. Badan menggigil, muka pucat, dan akhirnya iapun pingsan tidak tahan menahan sakit.

Hanya pada Tuhanlah

“Ada apa gerangan dik Tinah malam-malam kemari”  tanya Modo sambil memperbaiki duduknya.
“Ada perkara penting untuk dikerjakan Kang Modo” kata Mbok Tinah dengan sunguh-sungguh.
“Perkara penting apa itu?” tanya Modo kembali.
“Kakang tahu sendiri kan kalau di desa kita ada seorang bakul kopra yang bisa dikatakan belum lama usaha dagangnya tetapi semua bakul kopra baik yang lama maupun yang sebaya apalagi yang lagi merintis jauh ketinggalan darinya. Hampir semua sawah dan pekarangan dilahap olehnya sehingga orang lain tak mendapat bagian lagi. Makah al ini tidak boleh diterus-teruskan harus dihentikan, dibendung sebelum habis semua”. Kata Mbok Tinah meluap-luap.
“Apa Klatik yang kau maksud?” Tanya Modo keheranan.
“Ya, ya benar kang. Mereka berdua orang baik-baik, jujur, suka menolong orang, banyak amal, ramah tamah, dan kadang-kadang aku sering diberi tembakau yang enak dan kadang-kadang pula diberi uang. Nampaknya dewi fortuna sedang menyertai kehidupan mereka berdua maka apa yang dipegang menjadi uang, dan apa yang ditanam menjadi berlian. Jika memang nasib baik sedang menyemayani mereka jangalah iri, dengki atau dibenci karena itu sudah takdir Tuhan, bila kita melakukan hal itu berarti kita menentang garis Tuhan yang menjadikan kita” tutur tinutur  Modo mencoba menyabarkan hati Mbok Tinah.
            Ia berkata demikian sebab ia bersimpati kepada Klatik atas imbalan budi baiknya.
“Memang demikian seharusnya bila uang untuk membeli sawah, pekarangan, usaha, dan lainnya adalah uang halal tetapi kalau uang itu tidak halal, kepunyaan orang lain yang dicuri oleh tuyul-tuyul, apa harus dikasihani atau dibiarkan?” tandas wanita berambut jarang ini.
“Benarkah Klatik memelihara tuyul?” tanyanya tak percaya.
“Sudah tidak disangsikan lagi bahwa keluarga itu memelihara tuyul, sudah banyak yang menjadi saksi atas kebenaran ceritaku tadi” jawan Mbok Tinah.
“Jika memang itu benar seharusnya segera dihentikan. Apa yang harus aku lakukan?” si Modo menambakan.
“Itulah tugas yang akan kumintakan kepadamu. Kau bisa mengganggu mereka, agar mereka resah dan gelisah sehingga tidurnya kurang, hatinya bingung, tak tahu mana rumah mana pasar. Akhirnya liang kubur tempatnya” kata Mbok Tinah dengan wajah berseri-seri.
“Aku mau saja mengerjakan apa yang kamu suruh asal ada imbalan yang sesuai dengan tugas itu, tugas ini sungguh berat maka imbalannya pun besar pula” tegas Modo.
“Aku bersedia memenuhi  imbalan untukmu asal imbalan itu dapat kuwujudkan. Apa  yang Kang Modo inginkan?” sampai Mbok Tinah.
“Imbalan yang ku mau tidak berwujud benda namun kenikmatan” kata Modo berhati-hati agar dikabulkan permintaanya.
“Kau perempuan, aku laki-laki pertemuan antara kedua makhluk yang berlainan  jenis itulah kenikmatan” jelasnya pada Tinah.
“Bila yang kakang kehendaki demikian aku aku siap memenuhi kapan dan dimana kakang mau” Tinah menyanggupi permintaan Modo.
“Baiklah maka setiap tugas yang akan kujalankan kau harus siap pula memberikan kenikmatan padaku” balas Modo.
            Di tempat lain di malam yang sama, Nampak keluarga Katiman sedang membicarakan fitnahan yang menimpa mereka.
“Mbokne” kata Pak Katiman pada istrinya ketika mereka sedang duduk dikursi berhadapan sedang anak-anak mereka tidur didipan sisinya.
“Ada seorang pedagang kopra diantara beberapa pedagang kopra diantara beberapa pedagang kopra di desa ini yang mengiri dan mendengki atas keberhasilan usaha kita selama ini, ia tak segan menyebarkan isu-isu kesana kemari bahwa kita memelihara beberapa tuyul yang selalu kita bawa kemana saja ketoko, ke warung, dan lain-lain untuk mencuri kepunyaan, juga diisukan bahwa kita memiliki suatu jimat pengasihan. Barang siapa yang bercakap-cakap dengan orang yang membawa jimat itu, siapa saja tentu menurut segala apa yang dikehendaki oleh pembawa jimat, itulah sebabnya para penjual , pembeli kopra, dan lain-lain selalu merasa iba, percaya pada kita. Fitnahan tersebut telah menyebar keseluruh pelosok daerah ini bahkan telah menjalar ke daerah lain sekalipun demikian kita harus tetap sabar, tahan uji seperti apa yang dikatakan bapak. Kita yakin fitnahan itu akhirnya akan lenyap dibawa hembusan angin” kata Pak Katiman.
“Mudah-mudahan ia sadar akan perbuatannya dan kembali menjadi orang berbudi luhur” tambah Pak Katiman.
            Kini tindakan wanita paruh baya itu lebih agresif lagi kalau kalau dulu fitnahan menjurus kepada nama baik Pak Katiman, sekarang menjurus pada orang maupun harta benda. Pintu, jendela, pagar, hingga sumur menjadi sasaran fitnah dimana semuanya dirusak dan dibuang. Bahkan yang lebih keji lagi kotoran manusia ditaruh dimuka mintu bahkan dilontarkan kedalam rumah.
“Ingat kata-kata bapak bahwa syarat mutlak untuk mencapai cita-ita luhur demi kebahagian diri kita maupun anak cucu kita adalah kemampuan menahan diri dari segala percobaan baik kecil maupun besar” tutur istrinya mencoba bersabar.
“Bahagiakah aku mempunyai istri kau diwaktu kehujanan menyediakan payung diwaktu kepanasan menyediakan caping. Ya, ya aku ingat kata mutiara bapak itu” tutur Pak Katiman lagi.
             Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk tidur. Pak Katiman tidur di amben belakang sedang istrinya didepan. Sebelumnya Pak Katiman mengambil lampu ublik lalu dikecilkan cahayanya dan diletakan dipojok rumah jauh dari tempat tidur. Kini hatinya mulai berkecamuk dan tidak nyaman. Dilihatnya tidur anak-anak mereka Nampak gelisah. Suara bence lantang benar berkicau silih berganti. Dia merasa aka nada sesuatu yang terjadi.
            Tiba-tiba agak jauh dari tempat tidur Pak Katiman, ia mendengar suara orang sedang menggali tanah pelan-pelan. Karena merasa tidak beres, Pak Katiman pun megambil pedang yang telah disediakan, perlahan-lahan mendekati sumber suara. Ternyata lantai rumahnya telah berlobang sebesar kepala manusia. Kemudian ia mengambil posisi yang tepat sambil mengacungkan pedangny kea rah lubang. Bila pencuri masuk kedalam lubang melayanglah pedangnya.
“Srog…srog….” Bunyi pohon pisang yang dimasukan kedalam lubang berkali-kali rupanya pencuri masih ragu-ragu masuk kedalam lubang mungkin ia mendengar degukan jantung orang yang ada di dekat lubang.
“Srog……” bunyi cumplung yang diikat pada sebatang kayu untuk pegangan .
“Mungkin pencuri itu mendengar deburan jantung dan nafasku” kata hati Pak Katiman.
“Caaaas…..” suara desing pedang menembus sebuah benda yang dibalut ikat kepala yang dimasukan kedalam lubang.
“O, bukan kepala orang yang aku penggal tapi cuma cumplung yang dibalut ikat kepala” seru Pak Katiman lalu membangunkan istrinya.
“Lihat itu, cumplung yang dibalut ikat kepala kena tebas pedangku” seru Pak Katiman sembari mengambil ikat kepla dari lubang.
“Ikat kepala siapa ini?” Tanya si Katiman” pada istrinya.
“Kalau tidak salah ikat kepala kang Modo” jawab Mbok Katiman setelah mengamati ikat kepala tersebut.
“Ya sekarang, sudah tidak diragukan lagi bahwa yang melakukan perbuatan kotor selama ini adalah Modo, suruhan Tinah” kata Pak Katiman kembali.
            Siang berganti malam, malam berganti siang dan begitu seterusnya melaju demikian perjalanan waktu.
“Kulo nuwun” salam seseorang dari arah pendopo Pak Katiman.
Monggo,  mari masuk Pak!” ajak pria berhidung mancung ini.
“Saya telah menduga bahwa kedatangan saya sangat Nak Katiman nantikan bukan?” kata pria yang bernama Pak Jono ini.
“Ya demikianlah, kedatangan Pak Jono sangat saya nantikan. Bapak maklum sendiri fitnahan Tinah terus menjadi-jadi sampai perusakan harta benda yang saya miliki, bila perbuatan yang sedemikian keji terus dibiarkan takutnya akan merugikan tidak hanya saya saja pak” jelasnya setelah cukup kesabarannya selama ini.
“Lalu adik ingin cara seperti apa untuk menghentikan ulah si Tinah?” ungkap Pak Jono.
“Saya tidak ingin dengan cara kekerasan ataupun menyakitkan diri si Tinah, namun beri saya benda yang bisa melindungi diri saya sekeluarga saja dari kecamuk yang mencoba mengusik kami Pak Jono” katanya lirih.
“Kalau begitu maksud adik ini benda bertuah? Disini saya bawa beberapa, ada  kool buntet, besi kuning, clundrik, sedang ada lagi wuluh klakep. Tapi untuk wuluh klakep tidak saya bawa karena benda yang terakhir ini membutuhkan syarat-syarat yang cukup berat” Pak Jono menerangkan.
“Selain itu ada pun guna dari masing-masing benda ini. Pertama kool buntet, benda ini membuat tubuh dik Katiman kebal terhadap benda-benda keras seperti pedang, clurit, peluru, dan lain-lain. Selain itu juga mampu menghalau dari perbuatan tidak terpuji yang dilakukan orang lain. Nah sekarang saya coba dulu benda yang ini, apakah kool buntet  masih hidup atau sudah mati. Coba nak Katiman ambilkan gelas berisi air, jeruk purut dan beras” jelas Pak Jono panjang lebar.
            Barang-barang tersebut selanjutnya diletakan diatas meja oleh Pak Jono. Dimasukanlah kool buntet kedalam gelas yang berisi air yang telah diberi peresan jeruk purut. Apabila kool buntet  bergerak maka benda masih bertuah dan ternyata benda tersebut masih hidup.
            Selanjutnya percobaan kedua adalah beras. Oleh Pak Jono, beras dihamburkan di dekat ayam. Apabila ayam berani makan makan kool buntet sudah tak berfungsi, sebaliknya jika ayam-ayam tersebut menjauhi hamburan beras maka kool buntet masih memiliki kekuatannya. Ternyata ayam-ayam menjauhi hamburan beras, ini menandakan benda pertama yang dibawa Pak Jono masih bertuah. Clundrik memiliki keampuhan yang serupa dengan kool buntet.
            Kini giliran besi kuning yang dicoba kehandalannya. Pak Jono mencoba menutupi besi tersebut dengan kain hitam maka sudah seharusnya besi tersebut berpindah. Sedangkan ketika diletakan kain putih diatasnya maka benda tersebut akan kembali. Dan ternyata apa yang dikatakan Pak Jono benar adanya. Maka benda tersebut masih berfungsi.
            Berikutnya masih tetap untuk membuktikan apakah besi kuning tersebut bertuah atau tidak adalah dengan memasukan besi tersebut ke kulit pohon pisang. Indikasinya apabila ditetak tidak putus terbukti besi kuning masih bertuah. Maka benar, kulit pisang tersebut tidak putus saat ditetak. Namun ada yang perlu diperhatikan oleh Pak Katiman terhadap jimat yang satu ini, jadi jika ketika benda tersebut diletakan di kamar tengah rumah induk keesokan harinya menghilang maka tidak jodohlah ia dengan si  benda bertuah itu.
             Mengenai wuluh klakep keutamaannya adalah ketika ada orang jahat yang hendak mencuri barang atau membunuh orang yang memiliki wuluh ini, maka sebelum mencapai sasarnnya ia ia dihinggapi kantuk yang luar biasa. Juga, bila benda ini dipukulkan pada si lawan, sekali pukulannya langsung menyebabkan kantuk lalu tertidur pulas sedang bila dipukulkan untuk kedua kalinya ia akan tertidur untuk selama-lamanya.
            Untuk memperoleh wuluh klakep maka calon pemilik harus menjalani beberapa lelaku terlebih dahulu seperti siam empat puluh hari, patigeni  selama tujuh hari, tidak boleh zina, nyirik daging semisal daging babi, anjing, kambing, dan sebagainya, juga tidak diperkenankan makan buah-buahan. Sedang untuk memperolehnya harus orangnya sendiri yang mencari dan megambil benda bertuah itu tidak boleh diwakilkan orang lain. Menurut orang benda tersebut tumbuh disebuah gunung di utara yang disebut Gunung Sepikul.
“Semua benda-benda bertuah telah saya beberkan kegunaannya dan telah saya buktikan keampuhannya sekarang silahkan nak Katiman sendiri yang memilih benda bertuah mana yang ingin dimiliki! Untuk besi kuning saya anjurkan untuk tidak memilihnya, sebab besi kuning pada suatu waktu sapat menghilang sekalipun telah ada pemiliknya dalam beberapa waktu, takutnya kalu terjadi yang demikian Pak Katiman menuduhku menipu dan untuk wuluh klakep seperti yang saya jelaskan sebelumnya ada banyak persyaratan yang berat selain itu kemungkinan untuk memperolehnya juga kecil” anjur Pak Jono.
“Maksud saya mempunyai jimat seperti ini bukan untuk berbuat usil atau memperkaya diri bahkan balas dendam, melainkan untuk mempertahankan diri dari perbuatan jahat orang-orang yang ingin merusak kehidupan saya” ungkap Pak Katiman apa adanya.
“Jika tujuan nak Katiman baik, semoga Tuhan memberikan kedigdayaanNya padamu” ujar Pak Jono.
“Kalau begitu saya ingin memiliki clundrik dan kool buntet untuk besi kuningnya coba Pak Jono tinggal saya ingin itu juga. Nanti kemungkinan kalau berjodoh saya ambil juga” kata Pak Katiman.
            Mereka berdua pun melakukan negosiasi dan setelah sepakat dengan apa yang diakadkan diadakan serah terima benda bertuah tersebut. Kemudian Pak Jono pulang.
            Keesokan harinya Pak Katiman coba menengok apakah besi kuning itu berjodoh dengannya atau tidak. Setelah dilihat di kamar tengah rumah induk, tak didapati benda tersebut dimanapun. Itu menadandakan besi kuning itu sudah tak bertuah baginya.
             Ditempat yang lain, Mbok Tinah ternyata belum puas atas hasil fitnahannya selama ini, ia ingin agar Modo melakukan perbuatan yang paling keji yang ia bisa.
“Nikmatilah diriku sepuas-puasnya lalu setelah puas laksanakan kehendaku yang telah kukatakan kemarin padamu!” ujar Mbok Tinah di suatu tempat yang biasa untuk melampiaskan nafsu birahi kedua makhluk yang berlainan jenis tersebut.
          Malam itu hati Pak Sono lebih gelisah dari biasanya, tidur keempat anaknya juga tidak nyenyak terlihat usrek saja, bangun terus tidur lagi dan sesekali nangis.
“Aneh mala mini, aka nada apa lagi, baru sebulan pondasi rumahku digali orang, apa jangan-jangan kini ia akan kembali lagi?” tanya hatinya yang pilu sendiri.
          Tiba-tiba terdengar jeritan “uah…. uah… uah…” suara lembu-lembunya yang berada di kandang dekat gudang pengering kopra. Pak Katiman pun cepat keluar menuju kandang sapi. Ternyata Bibit, lembunya tersayat pedang dikakinya. Sebenarnya titah Mbok Tinah adalah untuk menghabisi keluarga mereka, sedang kepalanya ditunjukan pada mereka. Namun entah mengapa Modo gagal melakukan eksekusinya.
          Dikejarlah pria bertutup gombal  yang sebenarnya adalah Modo sang bromocorah tingkat kakap, lalu dilemparkan segala apa benda bertuah yang dimilikinya. Namun tak ada satupun yang mengenainya, entah mengapa.
          Melihat itu Pak Katiman sudah pasrah ia tak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Ia sudah lelah atas segala fitnahan yang sebenarnya tidak ia lakukan walau secuil pun. Pak Katiman pun akhirnya meneteskan air matanya. Ia kini benar-benar pasrah kepada Tuhan untuk apa yang akan terjadi pada diri dan keluarganya.
“Yaa, Tuhan aku telah pasrahkan semua kepadamu. Kaulah yang bisa membolak-balikan keadaan dan Kaulah yang hanya bisa melindungi aku, istriku, anak-anakku, dan harta bendaku dari perbuatan setan yang terkutuk. Maka hambamu ini memohon kembalikan mereka yang menyimpang ke jalan yang benar. Tak ada satupun yang bisa menandingi kuasaMu!” doa pak Katiman penuh kesungguhan, kepasrahan, dan keyakinan.