FITNAH
![]() |
| ilustrasi |
Pedagang Kopra yang berambisi menjadi yang paling sukses. Hingga akhirnya ia meminta bantuan seorang bromocorah kelas kakap untuk melancarkan ambisinya. Bagaimana perjuangan Pak Katiman menghadapi Mbok Tinah dan Modo? Apa saja yang dilakukan Pak Katiman untuk mencegah ambisi Mbok Tinah yang semakin menggila? Benda bertuahkah yang membantunya menghadapi Modo?
(marci)
Perdagangan kopra Pak Katiman dan Mbok Katiman semakin membengkak dan
menjadi-jadi, keuntungan yang diperoleh tidak ekaan,puluhan, atau ratusan saja
namun melambung hingga ribuan rupiah pada masa itu. Bakul kopra yang telah lama
pun tertinggal jauh darinya. Pedagang kelapa rombengan dan para pemilik kelapa yang sedikit maupun yang banyak
baru merasa aman apabila kelapa mereka dibeli oleh Pak Katiman.
Perolehan
kelapa Pak Katiman puluhan ribu butir sedang bakul kelapa lainnya paling banyak hanya sekitaran lima ribu butir
saja. Untuk sawah saja sudah lebih dari lima hektar dan pekarangan mencapai dua hektar yang hanya
mereka beli dalam kurun sedekade. Rumah tempat tinggalnya yang dulu hanya dua
buah kini beranak menjadi empat buah ditambah sebuah gudang besar yang
memanjang di muka rumah juga sebuah kandang
lembu yang dihuni setidaknya enam buah lembu komplit dengan cikarnya.
Pekarangan
tempat tinggalnya yang mula-mula lebarnya hanya seratus lima puluh meter
persegi kini telah menjadi lima ratus meter persegi. Pekerja harian pun tak mau
ketinggalan bertambah dari yang tadinya sekitar dua hingga lima menjadi lebih
dari tiga puluh orang. Itu hanya pekerja dalam mengelola kelapanya saja belum
terhitung pekerja dalam bidang taninya.
Anak
mereka juga turut bertambah. Jika pada mula membangun hunian baru beranak satu
maka sekarang sudah tiga lebih. Bersamaan dengan itu, pikiran mereka sudah
tidak hanya terfokus pada usaha dagangan dan pertanian saja, namun meluas kepemikiran
lain, diantarap anaknyanya mencarikan teman perempuannya yang sudah mendekati
dewasa, biaya sekolah anak-anak mereka, dan banyak yang lain. Maka tidak heran
apabila ada sejumlah bakul yang menaruh iri dan dengki atas keberhasilan
keluarga Pak Samin.
“Apa saja rahasia kesuksesan dan keberhasilan keluarga si Katiman
itu? Kerja keras, kejujuran? Ah kalau itu akupun demikian bahkan lebih hebat
daripada mereka. Tentu ada hal-hal lain yang membuntutinya. Setan, tuyul atau apalah sejenisnya. Ini tidak bisa
dibiarkan, harus dicegah dan dihentikan” kata hati Mbok Tinah di siang hari nan
cerah ditaburi gumpalan awan putih disana-sini sedang ia duduk di muka pintu
dapurnya dihadapan orang-orang yang sedang mengupas kulit kelapa.
Mbok Tinah sendiri adalah salah seorang
pedagang diantara pedagang kopra di desa Pak Katiman. Ia juga dikenal sebagai pedagang yang cukup
ulung.
“Tahukah kau semua, apa rahasia sukses Katiman dalam usaha
kopranya?” tanyak Mbok Tinah kepada orang-orang dihadapannya.
“Kejujuran, kerja keras, menepati janji mbok!” jawab salah
seorang dari mereka.
“Itu benar, tapi maksudku ada yang lain mungkin?” tutur Mbok Tinah berikutnya.
“Hal lain, maksudnya?” kata beberapa pekerja.
“Ya… apalah tuyul, setan berangkali” Mbok Tinah memadatkan topik
pembicaraannya.
“Setan kan tidak
dapat dilihat kasat mata, tapi tanda-tanda keberadaanya bisa dirasakan bukan?.
Oh iya apa kalian tau dikamar induk
Klatik istri Katiman, disitu disediakan beberapa buah pithi untuk tempat uang. Disamping
pithi-pithi itu ada periuk yang terbuat dari tanah liat yang berisi
bunga-bungaan. Nah! Didekat periuk itulah diletakan sebuah gentong besar untuk
membakar kemenyan. Disitu pula disediakan tikar dan bantal guling untuk
menyusui tuyul-tuyul dan di malam jum’at leginya setelah menyusui tuyul lalu
mereka membakar kemenyan diatas genteng besar.
Kemudian tuyul-tuyul tersebut menghilang sambil membawa pithi yang telah disediakan itu”
tandasnya panjang lebar meyakinkan.
“Sungguh aneh bin ajaib, mbakyu ini kok pandai mengada-ada hal yang tidak ada
menjadi ada. Memang sudah tahu sendiri mbakyu dengan hal itu? Apa hanya cerita
dari orang yang suka berbohong dan membual kesana kemari saja?” tanya salah
seorang pekerja dengan hati yang mendongkol.
“Ai, ai kau rupanya antek-antek
si Klatik ya. Mendapat hidayah apa kau darinya?” tanya Mbok Tinah dengan
tatapan tajam pada pekerja tersebut.
“Jangan salah paham mbakyu, saya tidak mendapat apa-apa dari
dia. Saya berkata begitu sebab saya yang setiap disana masuk keluar kamar yang
mbakyu katakan itu sedang jauh dari kenyataan yang saya pahami. Untuk dua periuk
besar yang ada di kamar wetan itu berisi beras sedang pithi, gentong besar, juga periuk lainnya
itu berisi kembang dan lain-lain yang
mbakyu katakana sama sekali tidak saya lihat” pekerja tersebut menerangkan.
“Barang-barang tersebut adalah barang-barang ghaib yaitu
barang-barang kepunyaan makhluk halus laksana tuyul , jin, genderuwo sehingga
orang biasa belum dapat mencapainya. Jika hendak terbuka mata batinnya mak
harus bertapa atau menjalankan ritual-ritual khusus” tambah Mbok Tinah memantapkan omongannya.
“Aku bisa menguatkan akan ceritaku ini yaitu dari Pak Legi
yang pada malam jum’at legi sekitar jam dua malam ia melihat dengan mata
inderanya sendiri sendiri, sejumlah anak kecil masing-masing membawa sebuah pithi entah berisi apa, ya bisa saja itu berisi uang
hasil curian. Lalu Pak Legi menyapa anak-anak itu namun mereka malah berlari
menuju rumah Klatik lalu lenyap. Kalau kau tak percaya certitaku kau bisa
bertanya sendiri. Orangnya msih hidup rumahnya dimuka rumah si Klatik ” ungkap
Mbok berbadan kurus ini selanjutnya.
“Bila cerita aneh ini menyebar kemana-mana, apakah Kang
Katiman tidak akan mencari siapa yang menjadi sumber penyebarannya? Dan apabila
telah diketahui dalangnya maka ia akan berusaha memberantas. Apakah ini
nantinya tidak akan menimbulkan ontran-ontran
di desa kita?” jelas pekerja itu mencoba memadamkan cerita wanita berbibir
tipis itu.
“Biarkan saja timbul ontran-ontran
aku merasa ini benar dan penduduk yang melalkukan hal demikian harus diberantas
pula. Aku pun telah siap dengan segala resiko. Aku tak gentar dengan sebuah
kebenaran yang kupahami” kata Mbok Tinah penuh emosi dan tanpa banyak pikir.
“Terserah mbakyu”
kata pekerja itu mengakhiri percakapan mereka.
Maka seperti pepatah ‘wong becik ketithik, wong ala ketoro’ maka bagi orang baik akan
terlihat kebaikannya sedang orang buruk akan terungkap pula keburukannya.
Ternyata cerita Mbok Tinah telah diomongkan dimana-mana di pasar, dipejagongan manten, diwaktu ia berjualan
kopra dan dimana saja ia berada tentu diceritakanlah kepada orang-orang yang
diajak bercakapan. Juragan kopra pun
juga tak ketinggalan diceritainya. Namun juragan tersebut menegur Mbok Tinah
agar supaya tidak menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.
Pak Katiman
dan Mbok Katiman pun sesungguhnya telah mendengar fitnahan itu baik dari para
pekerja, teman sepedagangan maupun sanak keluarga dan handai tolannya tetapi
mereka tetap membungkam seakan-akan belum mendengar cerita bohong itu.
“Biar ia menyebarkan kata-kata beracun itu sepuas hatinya,
orang bijak tentu dapat menilai siapa, bagaimana, dan untuk apa kata beracun
itu disebarkan?” ujar Mbok Katiman kepada Pak Katiman juga ke pekerja yang sedang
mengupas kulit di pendoponya.
“Tak perlu aku menanggapi gossip burung seperti itu, bila
sudah payah tentu akan berhenti dengan sendirinya” lanjut Pak Katiman
“Sungguh berbudi
luhur Pak Katiman ini, bisa-bisanya sabar menghadapi cobaan seperti ini” puji
salah seorang pekerja.
Cerita burung itu tidak hanya sampai kepada
rakyat umum saja namun sudah sampai kepada pegawai-pegawai pemerintah Hindia
Belanda, hal tersebut diungkap oleh dua anak si Katiman yang bernama Samijan
dan Sukar yang masih duduk dibangku Sekolah Rakyat di desanya. Kemudian
dipanggilah mereka berdua oleh gurunya yang menanyakan benar tidaknya kabar
jikalau orang tuanya memelihara anak-anak kecil yang membawa pithi. Lalu kedua anak tersebut menjawab
jikalau mereka tidak pernah melihat anak kecil selain saudara-saudara mereka.
Sekalipun
cerita Mbok Tinah telah menyusup kecelah-celah pribadi rakyat umum maupun
pegawai pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, namun nampaknya Mbok Tinah
belum merasa puas jika ceritanya hanya berimbas pada nama baik keluarga
Katiman, dia berharap jika ceritanya tersebut juga berimbas pada harta benda
Pak Katiman.
Keesokan harinya tepat waktu malam, Mbok Tinah
menemui Modo untuk meminta bantuan. Modo sendiri adalah seorang bromocorah,
penyiksa, dan pembunuh. Ia baru saja keluar dari Nusakambangan karena peristiwa
perampokan dan pembunuhan.
Kebengisan si Modo
“Kang Modo!” kata Kiman, anak
buah Modo dipersimpangan jalan di desanya.
“Relakah jika kekasihmu diterkam
oleh pria lain?” Tanya Kiman pada Modo.
“Ya, tentu tidaklah man. Memang
kenapa?” sahut si pria berbadan kekar pendek dan beralis tebal itu.
“Baik akan kuceritakan kepadamu
apa yang terjadi pada Rondo Kuning selama kakang di Nusakambangan” kata Kiman
seterusnya.
“Ceritakan apa yang kau lihat
pada kekasihku, namun jangan sekali-kali kau mengada-ada bila itu terjadi bogem akan melayang padamu” ujar pria
berkulit hitam legam dan bermulut lebar ini sangat penasaran.
“Aku berani bersumpah dan
menerima segala akibatnya bila apa yang saya ceritakan ini tidaklah benar”
tandas Kiman meyakinkan.
“Sudah berkali-kali aku melihat
dan mengintip kekasihmu tidur dalam satu dipan
dengan si Kuntet. Berkali-kali pula aku peringatkan kepadanya untuk tidak
mengganggu Mbok Rondo Kuning kekasih Kang Modo sebab akibatnya dahsyat sekali
jikalau Kang Modo sudah kembali dari pengasingannya. Mendengar hal itu si
Kuntet malah membandel, ia mengejekku jika
aku tak usah mempedulikannya, toh itukan
tanggung jawabnya. Dia juga mempersilahkan aku untuk berhubungan dengan
kekasihmu asal si Rondo Kuningmu mau. Sakit hatiku pun sampai sekarang belum
sirna, aku katakan saja padanya jika perbuatannya ini akan kulaporkan pada Kang
Modo. Tapi dia malah menjawab sinis dan mengancam tidak takut atas pelaporanku
nanti pada Kang Modo” cerita si Kiman panjang.
“Sekali lagi kisahmu ini dapat
dipertanggungjawabkan dank au berani menanggung akibatnya jika ini tidak benar”
Modo mencoba meyakinkan atas kebenaran cerita yang diungkap Kiman dengan nada
yang tinggi.
“Benar Kang! Aku berani
menanggung akibatnya bila penjelasanku tidaklah benar” Kiman menyahuti.
“Kalau begitu gila benar si
Kuntet. Akan kuhajar habis-habisan ia” Kata Modo geram.
“Ayo kita ke rumahnya dan kita
seret ia ketengah-tengah sawah untuk menerima akibat dari perbuatannya” ujar
Modo dengan suara santar.
Sebenarnya ada masalah pribadi
antara Kiman dan Kuntet. Sudah sejak lama mereka bertengkar. Permasalahnnya
adalah wanita, pekerja, dan lain sebagainya. Dan itu berita burung yang
disampaikannya merupakan langkah yang tepat bagi Kiman untuk membalaskan dendamnya
pada Kuntet.
Berkisar seratus meter dari rumah Mbok Rondo
Kuning berdirilah sebuah rumah kecil berdinding bambu miring kekiri diatas
tanah seluas sepuluh meter persegi. Dan disanalah rumah keluarga Kuntet.
Pikiran Kuntet malam itu melayang
kemana-mana, debur jantungnya semakin menderu, was-was menggeluti hatinya nun
disana, alunan suara burung hantu memecah lazuardi diselingi suara gemak takut
injakan manusia di dalam malam sunyi. Alunan pikiran yang tak mengarah itu
dicobanya untuk dihentikan tetapi sia-sia belaka, matanya ditutup-tutupkan agar
lekas tidur namun juga tak berdaya pula, anehnya sejak sore sampai larut malam
tangis anak bungsunya tak kunjung berhenti.
“Akan ada apa malam ini?” celetuk
hatinya.
“Tok…tok…tok…” terdengar suara
pintu yang diketuk seseorang.
“Siapa yang mengetuk pintu?” tanya
Kuntet.
“Aku Modo, lekas keluar kau”
sahut Modo membentak.
“Mengapa malam-malam buta ia dating
kemari? Apa Yu Rondo Kuning kumat encoknya
lalu aku disuruhnya memanggil Nyi Sinto dukun pijat. Atau jangan-jangan ia
sakit lalu aku disuruh untuk membeli obat. Tapi mana ada took obat malam-malam
begini yang buka. Tentu ada yang lain, Ngalamat
apa ini kok tiba-tiba denyut hatiku menjadi-jadi” batinnya berbisik
ketakutan.
Dengan tergopoh-gopoh ia membukakan pintu terus menuju ke posisi Modo
berdiri.
“Ayo turut aku!” perintahnya pada
Kuntet.
“Ada apa to Kang Modo?” tanya Kuntet
terbata-bata.
“Kalau sudah sampai di tengah
sawah utara kau juga akan tahu !” jawab si pria berdahi menonjol ini.
Sesaat setelah mereka berjalan
akhirnya tibalah perbincangan mereka di tengah sawah.
“Nah sekarang sudah sampai
ditengah sawah, jawablah pertanyaanku secara benar, bila kau menjawab
pertanyaanku dengan berbohong kau akan menerima bogemku. Istrimu satu-satunya orang di dunia ini yang kau kasihi
kan? Bagaimana kalau ia sampai diambil pria lain? ” sahut Modo.
“Iya kang. Jelas tidak boleh jika
ia sampai berpaling ke pria lain, akan ku bela mati-matian hingga ‘sedumuk bathuk senyari bumi’” jawab si
Kuntet tegas.
“Kau tahu Mbok Rondo Kuning
adalah kekasihku, bagaimana rasa hatiku bila ia dibuat mainan orang lain?” Tanya
Modo.
“Tentu saja Kang Modo tidak rela
dan minta pertanggung jawaban dari orang itu” jelas di Kuntet.
“Nah, sekarang aku minta
pertanggung jawaban atas perbuatan terkutukmu itu!” Kata si Modo.
“Perbuatan terkutuk yang mana
kang?” Tanya Kuntet semakin bingung.
“Kau jangan pura-pura tidak tahu,
sok tidak berbuat…….” Geretak Modo sambil mengayunkan tangan kanannya kepipi
Kuntet.
“Ampun kang……….. sakit…………………….”
Kuntetpun terjatuh ke tanah.
“Ini baru ayunan tangan terbuka
kau sudah sambatí, belum amukan
bogemku” gertak Modo geramnya.
Kuntet yang kecil, kurus, penakut
berhadapan dengan Modo yang berbadan besar, berotot kekar, dan bermental keras
lakana kucing yang bertemu seekor tikus. Tentu bukanlah tandinganya si Modo
untuk Kuntet.
“Katakan sudah berapa kali kau
menjamah badan si Kuning? Jika kau tak berterus terang bogemku akan melayang” bentak Modo.
“Kang Modo. Sama sekali belum
pernah aku menjamah badan Yu Kuning, mana ia mau denganku dan juga apa yang
diharapkan dariku. Aku ini tak bukan hanya seorang pesuruh, selain itu rupa dan
harta benda tak ada padaku” jawab Kuntet merintih kesakitan.
“Halah! Kau masih mungkir saja.
Katakan terus terang sekarang juga!” teriak si Modo pada Kuntet.
Tak mendapat jawaban sesuai apa
yang dikehendaki, Modo lantas menghajar Kuntet hingga babak belur. Tak hanya
berhenti disitu saja perlakuan yang diterima Kuntet. Sekarang ia dibawa menuju
tengah-tengah desa, kemudian ia disuruh masuk pekarangan. Di sebuah pohon di
pekarangan itu ia diikat.
“Kau telah saya ikat, kau tak
boleh berteriak meminta tolong ataupun lari dari sini sebelum ada izin dariku.
Sekali lagi saya ulangi pertanyaanku sudah berapa kali kau menjamah tubuh di
Kuning? Jawab saja terus terang, bila tidak akibatnya akan kau rasakan nanti”
tegas Modo.
“Kang Modo aku berani mengucap
sumpah dihadapanmu ‘Demi Tuhan, tanah, bintang, dan langit, pohon-pohon
disekelilingku ini bila aku telah berbuat serong terhadap Yu Kuning aku
bersedia disambar Guntur sekalipun atau digigit ular sampai mati. Inilah sumpah
yang saya ucapkan sesungguhnya tinggal Kakang percaya atau tidak. Sedangkan
orang yang melaporkan berita ini kepadamu sesungguhnya ia telah berbuat fitnah”
kata Kuntet dengan yakin sambil bercucuran air mata.
Hati Modo mulai tergerak dan dalam
hatinya mulai menimbang-nimbang antara sumpah si Kiman dengan sumpah si Kuntet.
“Tapi Kiman belum mengucapkan
sumpah ia hanya mengungkapkan jika ia berani menanggung sumpah sedang Kuntet
jelas-jelas mengucapkan sumpah dengan berani menanggung akibat sumpah yang
diucapkan itu. Lagipula aku belum menanyakan ini pada Roro Kuning. Aku juga
tidak yakin jika si Kuntet berani berbuat sekeji itu terhadap calon kekasihku”
hatinya berbisik.
“Apakah Kuntet berani bersumpah yang
demikian berat hanya karena ia takut denganku, tapi Kiman tahu dengan mata
kepalanya sendiri dan ia melihat tidak hanya sekali, dua kali, namun
berkali-kali. Jadi menurutku Kiman lebih dapat aku percaya” celetuk hati
kecilnya menambahkan.
“Katakanlah terus terang saja
jangan bersumpah yang tidak-tidak kau! Aku akan nantikan kebenaran darimu sejam
dari sekarang, bila dalam waktu sejam kau tak berterus terang sekali lagi aku katakan
kau rasakan akibatnya! Sekarang aku pergi sebentar dan akan kembali kesini, kau
tak boleh berteriak ataupun melarikan diri. Bila kau langgar perintahku kakimu
akan kupatahkan dan darahmu akan ku minum” jelas Modo mengancam Kuntet agar
mengaku.
“Bila aku mengaku berbuat, pasti
akibatnya lebih berat lagi mungkin tangan dan kakiku dipatahkannya atau mungkin
aku dihajar sehebat-hebatnya sedang kenyataannya aku tak melakukan perbuatan
tidak terpuji itu. Tapi bila aku berkata tidak berbuat ia juga tetap kencang
dengan pemikirannya jika aku telah bersetubuh dengan pujaan hatinya. Sebenarnya
siapakah yang membuat gara-gara ini? Mungkinkah Kiman, dia hendak balas dendam
padaku” kata hatinya sambil melamun selama sejam.
Tiba-tiba ia tersentak dari
lamunannya setelah mendengar hardik Modo.
“Kuntet kini waktunya telah tiba.
Tinggal ada dua pilihan berbuat atau tidak berbuat! Pilih sekarang juga” getaknya sambil mengacungkan belati.
“Tidak berbuat!” balas si Kuntet.
“Cas……” kupingnya dipotong oleh
Modo.
“Bedebah! Rasakan hadiah dariku
karena perbuatanmu yang terkutuk selama ini dan kau kulepas asal kau tidak
boleh berteriak minta tolong juga tak boleh melaporkan hal ini pada polisi.
Apabila laranganku ini kau langgar, bersiaplah menerima hadiah yang lebih besar
dari ini. Camkan kata-kataku ini!”
titahnya sembari melepas tali yang mengikat dan menyuruhnya pulang.
Kuntet pun berjalan terhuyun-huyun
meninggalkan pekarangan itu dengan tangannya yang berlumuran darah. Badan
menggigil, muka pucat, dan akhirnya iapun pingsan tidak tahan menahan sakit.
Hanya pada Tuhanlah
“Ada apa gerangan dik Tinah malam-malam kemari” tanya Modo sambil memperbaiki duduknya.
“Ada perkara penting untuk dikerjakan Kang Modo” kata Mbok
Tinah dengan sunguh-sungguh.
“Perkara penting apa itu?” tanya Modo kembali.
“Kakang tahu sendiri kan kalau di desa kita ada seorang bakul kopra yang bisa dikatakan belum
lama usaha dagangnya tetapi semua bakul kopra
baik yang lama maupun yang sebaya apalagi yang lagi merintis jauh ketinggalan
darinya. Hampir semua sawah dan pekarangan dilahap olehnya sehingga orang lain
tak mendapat bagian lagi. Makah al ini tidak boleh diterus-teruskan harus
dihentikan, dibendung sebelum habis semua”. Kata Mbok Tinah meluap-luap.
“Apa Klatik yang kau maksud?” Tanya Modo keheranan.
“Ya, ya benar kang. Mereka berdua orang baik-baik, jujur,
suka menolong orang, banyak amal, ramah tamah, dan kadang-kadang aku sering
diberi tembakau yang enak dan kadang-kadang pula diberi uang. Nampaknya dewi fortuna sedang menyertai kehidupan
mereka berdua maka apa yang dipegang menjadi uang, dan apa yang ditanam menjadi
berlian. Jika memang nasib baik sedang menyemayani mereka jangalah iri, dengki
atau dibenci karena itu sudah takdir Tuhan, bila kita melakukan hal itu berarti
kita menentang garis Tuhan yang menjadikan kita” tutur tinutur Modo mencoba
menyabarkan hati Mbok Tinah.
Ia berkata
demikian sebab ia bersimpati kepada Klatik atas imbalan budi baiknya.
“Memang demikian seharusnya bila uang untuk membeli sawah,
pekarangan, usaha, dan lainnya adalah uang halal tetapi kalau uang itu tidak
halal, kepunyaan orang lain yang dicuri oleh tuyul-tuyul, apa harus dikasihani
atau dibiarkan?” tandas wanita berambut jarang ini.
“Benarkah Klatik memelihara tuyul?” tanyanya tak percaya.
“Sudah tidak disangsikan lagi bahwa keluarga itu memelihara
tuyul, sudah banyak yang menjadi saksi atas kebenaran ceritaku tadi” jawan Mbok
Tinah.
“Jika memang itu benar seharusnya segera dihentikan. Apa
yang harus aku lakukan?” si Modo menambakan.
“Itulah tugas yang akan kumintakan kepadamu. Kau bisa
mengganggu mereka, agar mereka resah dan gelisah sehingga tidurnya kurang,
hatinya bingung, tak tahu mana rumah mana pasar. Akhirnya liang kubur tempatnya”
kata Mbok Tinah dengan wajah berseri-seri.
“Aku mau saja mengerjakan apa yang kamu suruh asal ada
imbalan yang sesuai dengan tugas itu, tugas ini sungguh berat maka imbalannya
pun besar pula” tegas Modo.
“Aku bersedia memenuhi
imbalan untukmu asal imbalan itu dapat kuwujudkan. Apa yang Kang Modo inginkan?” sampai Mbok Tinah.
“Imbalan yang ku mau tidak berwujud benda namun kenikmatan”
kata Modo berhati-hati agar dikabulkan permintaanya.
“Kau perempuan, aku laki-laki pertemuan antara kedua makhluk
yang berlainan jenis itulah kenikmatan”
jelasnya pada Tinah.
“Bila yang kakang kehendaki demikian aku aku siap memenuhi
kapan dan dimana kakang mau” Tinah menyanggupi permintaan Modo.
“Baiklah maka setiap tugas yang akan kujalankan kau harus
siap pula memberikan kenikmatan padaku” balas Modo.
Di tempat
lain di malam yang sama, Nampak keluarga Katiman sedang membicarakan fitnahan
yang menimpa mereka.
“Mbokne” kata Pak Katiman pada istrinya ketika mereka sedang
duduk dikursi berhadapan sedang anak-anak mereka tidur didipan sisinya.
“Ada seorang pedagang kopra diantara beberapa pedagang kopra
diantara beberapa pedagang kopra di desa ini yang mengiri dan mendengki atas
keberhasilan usaha kita selama ini, ia tak segan menyebarkan isu-isu kesana
kemari bahwa kita memelihara beberapa tuyul yang selalu kita bawa kemana saja
ketoko, ke warung, dan lain-lain untuk mencuri kepunyaan, juga diisukan bahwa
kita memiliki suatu jimat pengasihan. Barang siapa yang bercakap-cakap dengan
orang yang membawa jimat itu, siapa saja tentu menurut segala apa yang
dikehendaki oleh pembawa jimat, itulah sebabnya para penjual , pembeli kopra,
dan lain-lain selalu merasa iba, percaya pada kita. Fitnahan tersebut telah
menyebar keseluruh pelosok daerah ini bahkan telah menjalar ke daerah lain
sekalipun demikian kita harus tetap sabar, tahan uji seperti apa yang dikatakan
bapak. Kita yakin fitnahan itu akhirnya akan lenyap dibawa hembusan angin” kata
Pak Katiman.
“Mudah-mudahan ia sadar akan perbuatannya dan kembali
menjadi orang berbudi luhur” tambah Pak Katiman.
Kini
tindakan wanita paruh baya itu lebih agresif lagi kalau kalau dulu fitnahan
menjurus kepada nama baik Pak Katiman, sekarang menjurus pada orang maupun
harta benda. Pintu, jendela, pagar, hingga sumur menjadi sasaran fitnah dimana
semuanya dirusak dan dibuang. Bahkan yang lebih keji lagi kotoran manusia
ditaruh dimuka mintu bahkan dilontarkan kedalam rumah.
“Ingat kata-kata bapak bahwa syarat mutlak untuk mencapai
cita-ita luhur demi kebahagian diri kita maupun anak cucu kita adalah kemampuan
menahan diri dari segala percobaan baik kecil maupun besar” tutur istrinya
mencoba bersabar.
“Bahagiakah aku mempunyai istri kau diwaktu kehujanan
menyediakan payung diwaktu kepanasan menyediakan caping. Ya, ya aku ingat kata mutiara bapak itu” tutur Pak Katiman
lagi.
Mereka
berdua pun akhirnya memutuskan untuk tidur. Pak Katiman tidur di amben belakang sedang istrinya didepan.
Sebelumnya Pak Katiman mengambil lampu ublik
lalu dikecilkan cahayanya dan diletakan dipojok rumah jauh dari tempat tidur.
Kini hatinya mulai berkecamuk dan tidak nyaman. Dilihatnya tidur anak-anak
mereka Nampak gelisah. Suara bence
lantang benar berkicau silih berganti. Dia merasa aka nada sesuatu yang
terjadi.
Tiba-tiba
agak jauh dari tempat tidur Pak Katiman, ia mendengar suara orang sedang
menggali tanah pelan-pelan. Karena merasa tidak beres, Pak Katiman pun megambil
pedang yang telah disediakan, perlahan-lahan mendekati sumber suara. Ternyata lantai
rumahnya telah berlobang sebesar kepala manusia. Kemudian ia mengambil posisi
yang tepat sambil mengacungkan pedangny kea rah lubang. Bila pencuri masuk
kedalam lubang melayanglah pedangnya.
“Srog…srog….” Bunyi pohon pisang yang dimasukan kedalam
lubang berkali-kali rupanya pencuri masih ragu-ragu masuk kedalam lubang
mungkin ia mendengar degukan jantung
orang yang ada di dekat lubang.
“Srog……” bunyi cumplung yang diikat pada sebatang kayu untuk
pegangan .
“Mungkin pencuri itu mendengar deburan jantung dan nafasku”
kata hati Pak Katiman.
“Caaaas…..” suara desing
pedang menembus sebuah benda yang dibalut ikat kepala yang dimasukan
kedalam lubang.
“O, bukan kepala orang yang aku penggal tapi cuma cumplung yang dibalut ikat kepala” seru
Pak Katiman lalu membangunkan istrinya.
“Lihat itu, cumplung yang dibalut ikat kepala kena tebas
pedangku” seru Pak Katiman sembari mengambil ikat kepla dari lubang.
“Ikat kepala siapa ini?” Tanya si Katiman” pada istrinya.
“Kalau tidak salah ikat kepala kang Modo” jawab Mbok Katiman
setelah mengamati ikat kepala tersebut.
“Ya sekarang, sudah tidak diragukan lagi bahwa yang
melakukan perbuatan kotor selama ini adalah Modo, suruhan Tinah” kata Pak
Katiman kembali.
Siang
berganti malam, malam berganti siang dan begitu seterusnya melaju demikian
perjalanan waktu.
“Kulo nuwun” salam seseorang dari arah pendopo Pak Katiman.
“Monggo, mari masuk Pak!” ajak pria berhidung mancung
ini.
“Saya telah menduga bahwa kedatangan saya sangat Nak Katiman
nantikan bukan?” kata pria yang bernama Pak Jono ini.
“Ya demikianlah, kedatangan Pak Jono sangat saya nantikan.
Bapak maklum sendiri fitnahan Tinah terus menjadi-jadi sampai perusakan harta
benda yang saya miliki, bila perbuatan yang sedemikian keji terus dibiarkan
takutnya akan merugikan tidak hanya saya saja pak” jelasnya setelah cukup
kesabarannya selama ini.
“Lalu adik ingin cara seperti apa untuk menghentikan ulah si
Tinah?” ungkap Pak Jono.
“Saya tidak ingin dengan cara kekerasan ataupun menyakitkan
diri si Tinah, namun beri saya benda yang bisa melindungi diri saya sekeluarga
saja dari kecamuk yang mencoba mengusik kami Pak Jono” katanya lirih.
“Kalau begitu maksud adik ini benda bertuah? Disini saya
bawa beberapa, ada kool buntet, besi kuning, clundrik,
sedang ada lagi wuluh klakep. Tapi
untuk wuluh klakep tidak saya bawa
karena benda yang terakhir ini membutuhkan syarat-syarat yang cukup berat” Pak
Jono menerangkan.
“Selain itu ada pun guna dari masing-masing benda ini.
Pertama kool buntet, benda ini
membuat tubuh dik Katiman kebal terhadap benda-benda keras seperti pedang, clurit, peluru, dan lain-lain. Selain
itu juga mampu menghalau dari perbuatan tidak terpuji yang dilakukan orang
lain. Nah sekarang saya coba dulu benda yang ini, apakah kool buntet masih hidup atau
sudah mati. Coba nak Katiman ambilkan gelas berisi air, jeruk purut dan beras”
jelas Pak Jono panjang lebar.
Barang-barang tersebut selanjutnya diletakan diatas meja oleh Pak Jono. Dimasukanlah
kool buntet kedalam gelas yang berisi
air yang telah diberi peresan jeruk
purut. Apabila kool buntet bergerak maka benda masih bertuah dan ternyata
benda tersebut masih hidup.
Selanjutnya percobaan kedua adalah beras. Oleh Pak Jono, beras
dihamburkan di dekat ayam. Apabila ayam berani makan makan kool buntet sudah tak berfungsi, sebaliknya jika ayam-ayam tersebut
menjauhi hamburan beras maka kool buntet
masih memiliki kekuatannya. Ternyata ayam-ayam menjauhi hamburan beras, ini
menandakan benda pertama yang dibawa Pak Jono masih bertuah. Clundrik memiliki keampuhan yang serupa
dengan kool buntet.
Kini
giliran besi kuning yang dicoba kehandalannya. Pak Jono mencoba menutupi besi
tersebut dengan kain hitam maka sudah seharusnya besi tersebut berpindah.
Sedangkan ketika diletakan kain putih diatasnya maka benda tersebut akan
kembali. Dan ternyata apa yang dikatakan Pak Jono benar adanya. Maka benda
tersebut masih berfungsi.
Berikutnya
masih tetap untuk membuktikan apakah besi kuning tersebut bertuah atau tidak
adalah dengan memasukan besi tersebut ke kulit pohon pisang. Indikasinya
apabila ditetak tidak putus terbukti
besi kuning masih bertuah. Maka benar, kulit pisang tersebut tidak putus saat
ditetak. Namun ada yang perlu
diperhatikan oleh Pak Katiman terhadap jimat yang satu ini, jadi jika ketika
benda tersebut diletakan di kamar tengah rumah induk keesokan harinya
menghilang maka tidak jodohlah ia dengan si
benda bertuah itu.
Mengenai wuluh
klakep keutamaannya adalah ketika ada orang jahat yang hendak mencuri
barang atau membunuh orang yang memiliki wuluh
ini, maka sebelum mencapai sasarnnya ia ia dihinggapi kantuk yang luar
biasa. Juga, bila benda ini dipukulkan pada si lawan, sekali pukulannya langsung
menyebabkan kantuk lalu tertidur pulas sedang bila dipukulkan untuk kedua
kalinya ia akan tertidur untuk selama-lamanya.
Untuk
memperoleh wuluh klakep maka calon
pemilik harus menjalani beberapa lelaku
terlebih dahulu seperti siam empat
puluh hari, patigeni selama tujuh hari, tidak boleh zina, nyirik daging semisal daging babi,
anjing, kambing, dan sebagainya, juga tidak diperkenankan makan buah-buahan.
Sedang untuk memperolehnya harus orangnya sendiri yang mencari dan megambil
benda bertuah itu tidak boleh diwakilkan orang lain. Menurut orang benda
tersebut tumbuh disebuah gunung di utara yang disebut Gunung Sepikul.
“Semua benda-benda bertuah telah saya beberkan kegunaannya
dan telah saya buktikan keampuhannya sekarang silahkan nak Katiman sendiri yang
memilih benda bertuah mana yang ingin dimiliki! Untuk besi kuning saya anjurkan
untuk tidak memilihnya, sebab besi kuning pada suatu waktu sapat menghilang
sekalipun telah ada pemiliknya dalam beberapa waktu, takutnya kalu terjadi yang
demikian Pak Katiman menuduhku menipu dan untuk wuluh klakep seperti yang saya jelaskan sebelumnya ada banyak
persyaratan yang berat selain itu kemungkinan untuk memperolehnya juga kecil”
anjur Pak Jono.
“Maksud saya mempunyai jimat seperti ini bukan untuk berbuat
usil atau memperkaya diri bahkan balas dendam, melainkan untuk mempertahankan
diri dari perbuatan jahat orang-orang yang ingin merusak kehidupan saya” ungkap
Pak Katiman apa adanya.
“Jika tujuan nak Katiman baik, semoga Tuhan memberikan
kedigdayaanNya padamu” ujar Pak Jono.
“Kalau begitu saya ingin memiliki clundrik dan kool buntet
untuk besi kuningnya coba Pak Jono tinggal saya ingin itu juga. Nanti
kemungkinan kalau berjodoh saya ambil juga” kata Pak Katiman.
Mereka
berdua pun melakukan negosiasi dan setelah sepakat dengan apa yang diakadkan
diadakan serah terima benda bertuah tersebut. Kemudian Pak Jono pulang.
Keesokan
harinya Pak Katiman coba menengok apakah besi kuning itu berjodoh dengannya
atau tidak. Setelah dilihat di kamar tengah rumah induk, tak didapati benda
tersebut dimanapun. Itu menadandakan besi kuning itu sudah tak bertuah baginya.
Ditempat
yang lain, Mbok Tinah ternyata belum puas atas hasil fitnahannya selama ini, ia
ingin agar Modo melakukan perbuatan yang paling keji yang ia bisa.
“Nikmatilah diriku sepuas-puasnya lalu setelah puas
laksanakan kehendaku yang telah kukatakan kemarin padamu!” ujar Mbok Tinah di
suatu tempat yang biasa untuk melampiaskan nafsu birahi kedua makhluk yang
berlainan jenis tersebut.
Malam itu
hati Pak Sono lebih gelisah dari biasanya, tidur keempat anaknya juga tidak
nyenyak terlihat usrek saja, bangun
terus tidur lagi dan sesekali nangis.
“Aneh mala mini, aka nada apa lagi, baru sebulan pondasi
rumahku digali orang, apa jangan-jangan kini ia akan kembali lagi?” tanya hatinya
yang pilu sendiri.
Tiba-tiba
terdengar jeritan “uah…. uah… uah…” suara
lembu-lembunya yang berada di kandang dekat gudang pengering kopra. Pak Katiman
pun cepat keluar menuju kandang sapi. Ternyata Bibit, lembunya tersayat pedang
dikakinya. Sebenarnya titah Mbok Tinah adalah untuk menghabisi keluarga mereka,
sedang kepalanya ditunjukan pada mereka. Namun entah mengapa Modo gagal
melakukan eksekusinya.
Dikejarlah pria bertutup gombal yang sebenarnya
adalah Modo sang bromocorah tingkat kakap, lalu dilemparkan segala apa benda
bertuah yang dimilikinya. Namun tak ada satupun yang mengenainya, entah
mengapa.
Melihat itu
Pak Katiman sudah pasrah ia tak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Ia sudah
lelah atas segala fitnahan yang sebenarnya tidak ia lakukan walau secuil pun. Pak
Katiman pun akhirnya meneteskan air matanya. Ia kini benar-benar pasrah kepada
Tuhan untuk apa yang akan terjadi pada diri dan keluarganya.
“Yaa, Tuhan aku telah pasrahkan semua kepadamu. Kaulah yang
bisa membolak-balikan keadaan dan Kaulah yang hanya bisa melindungi aku, istriku,
anak-anakku, dan harta bendaku dari perbuatan setan yang terkutuk. Maka hambamu
ini memohon kembalikan mereka yang menyimpang ke jalan yang benar. Tak ada
satupun yang bisa menandingi kuasaMu!” doa pak Katiman penuh kesungguhan,
kepasrahan, dan keyakinan.
