JANJI PEMANGGUL KENDI
Seorang pria pemanggul air yang dipandang tidak berguna oleh pemanggul-pemanggul lain. Hingga suatu hari bertemulah ia dengan gadis kecil yang merengek-rengek meminta bunga yang cantik darinya. Apakah permintaan si gadis tersebut bisa dikabulkannya disaat desanya yang kering kerontang? Bagaimana kisah pria ini hingga ia bisa memberikan gadis bunga dan harapan bagi desanya?
(marci)
“Ya mau gimana pak, kendi saya yang bagian bawah ini retak
jadi air yang saya bawa hanya muat segini” ungkapnya.
Begitulah pria itu menjalani
kesehariannya setelah dua dari empat kendinya retak. Dia bertahan demi merawat
seorang pria baya di rumahnya sana. Pria ini pria yang cukup bijak, rendah hati,
sabar pula sayang kurang tangkas.
Terik kini
mulai turun berganti siluet senja nan apik, dan pria itu masih terus menimba
air di seberang Bukit Bogoh untuk dibawanya ke rumah sang pengepul. Sudah tujuh
belas kali ia bolak-balik mengambil air, namun tetap saja upah yang didapatnya
tak sebanyak teman-teman lainnya yang hanya bolak-balik kurang sedikit darinya.
“Bukan pemanggul air
sejati, bila begitu saja sudah payah” ujarnya lirih.
“Tapi sih kalau sampai harus bolak-balik segitu banyaknya,
ya loyo juga” sahut pemanggul pria
lain yang kebetulan mendengar dan berpapasan dengannya di dekat sungai kecil.
Maka pria
itu tak menggubris apa mau dikata pemanggul yang lain. Dipikirannya hanya tetuju
pada satu tujuan saja yaitu bagaimana ia bisa mendapatkan air sebanyak yang
lain agar upah yang diberikan bisa setimpal.
Ya
begitulah kehidupan. Tak selamanya penuh dengan kegembiraan, kesedihan dan perjuangan
juga bisa saja muncul disaat yang tak diduga. Sayangnya pria ini telah
menganggap jika dirinya tak berguna lagi karena ketidakterampilannya.
Pria ini
memang sudah tujuh bulan terakhir menggantikan pekerjaan ayahnya. Ia melakukan
itu karena ayahnya terpeleset sesaat
setelah menimba air di hulu sungai . Maka mau tidak mau untuk menyambung
penghidupannya ia harus menggantikan pekerjaan ayahnya. Memang pria ini kurang
cekatan dan terampil tidak seperti ayahnya. Baru sebulan lebih dia sudah memecahkan
sebuah kendi dan kendi lainnya ada yang retak juga ada yang bocel. Jadi kini tinggal empat kendi
yang masih bisa digunakan dari enam kendi sempurna sebelumnya. Dan dari empat
itupun hanya dua yang bisa penuh berisi air sedangkan lainnya hanya dapat setengah dan
seperempat saja.
Gadis Kecil Berkerudung
Hal ini berbeda dengan ayahnya dulu yang bisa membawa enam kendi penuh berisi air sekaligus. Berkurangnya jumlah kendi yang dimiliknya ini karena suatu kejadian. Untuk tiap kendi yang pecah, rusak, dan retak memiliki kejadiannya sendiri.
Pertama sekitar sebulan sepeninggal ayahnya dari pekerjaan itu. Pria ini tanpa sengaja bertemu seorang gadis berkerudung merah yang menangis saat si pria tersebut berjalan hendak kembali pulang. Gadis ini meminta bunga yang indah seperti milik gadis di desa sebelah yang lumayan jauh. Tak heran karena sudah tiga setengah tahun terakhir ini air sungai dari hulu tidak mengaliri desa mereka. Sehingga tumbuh-tumbuhan, bunga, maupun palawija tidak tumbuh sesubur di desa sebelah. Selain itu tanah mereka juga jadi retak dan pecah-pecah sehingga untuk bertahan hidup, para pria di desa itu mengambil air untuk kemudian dikumpulkan ke pengepul desa sebelah untuk mendapat uang sedangkan beberapa kendi bisa dibawanya pulang. Uang tersebut nantinya digunakan untuk membeli keperluan hidup dari desa sebelah juga.
Nah disaat gadis berkerudung itu menangis sambil meronta-ronta pada pria ini, karena suatu hal. Pria ini memberikan beberapa teguk air dari kendinya, namun alhasil malah disamparnya kendi itu dan seluruh airnya tumpah ketanah begitupun kendinya jadi pecah. Melihat hal tersebut, pria ini hanya mengelus dada saja
"Iya nanti pasti diberi bunga ya tapi tak sekarang, paman cari dulu" tutur pemanggul ini menenangkan.
"Janji ya paman, aku tunggu disetapak ini setiap hari" kata gadis itu.
Setelah tiga minggu kejadian itu. Pria berkulit sawo matang ini, berjalan melalui setapak itu kembali setelah sebelumnya melalui jalan yang lain. Musabab ia merasa hatinya tak tega bila bertemu anak itu sedang ia belum memberinya bunga. Disisi lain upah yang diterimanya semakin kecil karena jalan alternatif yang dilaluinya terlalu jauh sehingga hanya sedikit yang mampu dibawanya. Maka itu pemanggul itu kembali ke jalan tempat ia bertemu gadis berkerudung itu.
Agak lama ia menyusuri setapak itu, ia belum menemui si gadis berkerudung itu. Lalu tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk kakinya.
"Paman!" panggil si gadis kecil itu nyaring.
Karena merasa kaget pria ini pun berputar arah dengan cepat sambil melompat kecil. Akibatnya ia kehilangan keseimbangan dan ia jatuh terjungkal bersama kendi-kendinya.
"Yaampun..! Kamu mengaggetkan paman. Lihat kendi-kendi paman tumpah semua! Aduh... yang ini retak, yang itu juga, yang disana rusak, sudah tidak ada yang utuh tersisa" keluh pria tersebut.
"Maaf paman! Saya cuma berniat memanggil. Itu paman ada dua disana masih utuh-utuh" jelas si gadis ini.
"Untunglah masih ada yang utuh! Makanya pelan-pelan kalau memanggil paman" ungkap pria pemanggul yang dipanggil paman oleh si gadis kecil berkerudung itu.
"Iyaa... Bagaimana akan janji paman, aku masih setia menagih lo paman!" kata gadis itu.
"Sebentar dulu, lihat kendi-kendi paman yang utuh tinggal dua buah saja sekarang dan dua yang ini retak mungkin upah paman akan terpangkas jadi setengah saja. Adik tahu sendiri bukan, paman orang tidak punya, mungkin upah hasil ini nanti hanya pas untuk sedikit mengganjal perut yang keroncongan. Jadi..." tutur pria ini yang mana belum selesai menyampaikan inti perkataannya namun sudah dipotong perkataan oleh gadis kecil itu.
"Tidak... paman sudah berjanji padaku. Aku mohon pada paman, aku tidak tahu harus meminta pada siapa lagi. Hanya paman yang mau memberikan janji paman padaku. Aku akan tetap menunggu paman dijalan kecil ini. Aku tunggu paman esok lagi disini..."katanya sambil berlinangan air mata kemudian pergi.
Melihat kejadiaan itu pemanggul air ini sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia jadi teringat masa kecilnya yang ia habiskan bersama ibunya berladang. Namun keadaan sudah berubah, pria pemanngul ini tak mau banyak ambil pusing dengan gadis kecil berkerudung tadi. Fokusnya kini hanya menimba dan memanggul airnya ini.
Itu adalah cerita tentang bagaimana kendi yang enam jumlahnya utuh-utuh bisa tinggal dua saja dan lainnya retak.
"Iyaa... Bagaimana akan janji paman, aku masih setia menagih lo paman!" kata gadis itu.
"Sebentar dulu, lihat kendi-kendi paman yang utuh tinggal dua buah saja sekarang dan dua yang ini retak mungkin upah paman akan terpangkas jadi setengah saja. Adik tahu sendiri bukan, paman orang tidak punya, mungkin upah hasil ini nanti hanya pas untuk sedikit mengganjal perut yang keroncongan. Jadi..." tutur pria ini yang mana belum selesai menyampaikan inti perkataannya namun sudah dipotong perkataan oleh gadis kecil itu.
"Tidak... paman sudah berjanji padaku. Aku mohon pada paman, aku tidak tahu harus meminta pada siapa lagi. Hanya paman yang mau memberikan janji paman padaku. Aku akan tetap menunggu paman dijalan kecil ini. Aku tunggu paman esok lagi disini..."katanya sambil berlinangan air mata kemudian pergi.
Melihat kejadiaan itu pemanggul air ini sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia jadi teringat masa kecilnya yang ia habiskan bersama ibunya berladang. Namun keadaan sudah berubah, pria pemanngul ini tak mau banyak ambil pusing dengan gadis kecil berkerudung tadi. Fokusnya kini hanya menimba dan memanggul airnya ini.
Itu adalah cerita tentang bagaimana kendi yang enam jumlahnya utuh-utuh bisa tinggal dua saja dan lainnya retak.
Hanya Terima Kasih Ikhlas
Kini alur berjalan maju. Berarti kendi-kendi yang masih digunakan tinggal empat dimana dua utuh dan dua lainnya retak. Tapi itu tak mengapa bagi si pemanggul air ini. Ia terus melakukan kesibukannya, menaiki gunung untuk mengambil air kemudiaan menimba dengan peralatan yang sangat sederhana dan mengisikan air tersebut ke tiap-tiap kendi miliknya.
Kita tahu, dua kendi milik pemanggul tak terampil ini ada yang retak. Maka konsekuensi yang harus ditanggungnya adalah jumlah air yang dibawanya pasti tidak penuh. Bisa dibayangkan bagaimana susah dan beratnya menuruni gunung sambil membawa air kemudian sesampainya di hilir hanya tinggal tempatnya saja masih untung ada seperempat bahkan setengah. Ya, hal itu terjadi karena air-air yang dibawanya payah merembes kedalam celah retakan kendi. Sedangkan kendi hanya terbuat dari segumpal liat yang mudah terkikis terlebih itu sudah retak pula, maka ada alasan mengapa kian hari air yang dipanggulnya menyusut bahkan habis. Segala air yang ditempatkan di dua kendi tersebut berceceran disepanjang setapak tempat ia berjalan dan hal tersebut terus dilakukannya selama hampir sebulan bulan lebih.
Sedang gadis kecil itu tetap setia menunggu dan melihat tiap si pemanggul air tadi telah melewati jalan setapak tempat mereka bertemu. Menjadi pemandangan yang lumrah bagi gadis berkerudung merah itu. Namun pemanggul itu tak menggubris akan keberadaan gadis kecil yang setia menunggu janjinya waktu dulu itu.
Angin berhembus sepoi, dedahanan bergerah lirih, jangkrik menggemakan gaungnya, bintang nampak lebih benderang, sedang kendi itu masih meneteskan air dari dalamnya. Itu adalah panggulan air terakhirnya untuk dibawa pulang kerumah.
"Tuhan dimalam yang sangat dingin ini, aku sangat berharap pada-Mu akan ada kebahagiaan untukku dan semua orang esok hari. Kemarau yang Kau berikan pada kami, sudah diluar batas Tuhan. Aku ingin kebahagiaan dari-Mu walau hanya seperti terbakarnya daun kurma" tutur pria ini sungguh-sungguh sambil memanggul air di atas gunung yang sepi dan hening.
Keesokan harinya setelah berpamitan dengan ayahnya, ia pergi menimba air di gunung lagi. Ia sengaja tak melewati jalan setapak karena hendak membeli kendi lagi di desa sebelah. Kini picisannya cukup untuk membeli dua kendi menggantikan dua kendi yang retak. Dia baru mampu mengganti dua kendinya setelah dua bulan lamanya ia mengumpulkan uang. Sebenarnya jika tidak retak, dia bisa membeli empat kendi sekaligus karena upahnya tinggi tak seperti ketika kendi retak ia gunakan.
Sesampainya di pasar desa sebelah pria ini langsung ke bedag tempat jual kendi-kendi baru. Ia memilih kendi yang bagus lagi tebal dindingnya agar tidak merembes sehingga tidak merugikannya lagi dan dianggap tidak tangkas oleh para pemanggul yang lain. Setelah dipilih-pilih dan ditimbang-timbang dia memutuskan pilihannya jatuh pada kendi berbentuk bulat dengan ukiran bunga semboja berwarna kuning yang sangat indah. Sayangnya picisannya tidak sanggup membeli kendi itu walau sebuah. Ditawarlah kendi itu sesuai picisan yang dibawanya. Namun apa mau dikata, kendi itu belum berjodoh dengannya.
"Hai! pemuda jika uangmu cuma segitu belilah yang bentuk lain, aku ada kendi yang harganya sesuai dengan uang yang kau bawa" kata pejual kendi itu.
"Tidak pak, saya mohon saya mau kendi berukiran bunga semboja itu untuk ayah saya. Saya ingin tunjukan bahwa kerja memangguli air selama ini tak sia-sia" ungkap pemuda itu memelas.
"Ah... jika kuturuti permintaan setiap orang termasuk kau, bangkrutlah aku!" kata penjual itu sedikit galak.
Mendengar hal itu pria tersebut bukannya pergi namun malah duduk terpaku disekitar kendi-kendi.
Sesaat setelah matahari berada diatas kepala, dari kejauhan terlihat olehnya perempuan berumur sekitar sepuluh tahun mengenakan kerudung nampak berjalan menjauhi tempat sekarang pria ini berada. Perempuan tersebut berjalan sambil membawa tiga ikat bunga yang sangat indah.
"Itu nampak seperti gadis yang selalu setia menagih janjiku di jalan setapak" kata hatinya lirih
"Darimana ia mendapat bunga sebanyak itu?" kata hatinya menyambung lagi.
Maka tanpa banyak kata, diikutilah gadis tersebut dari belakang secara diam-diam. Pria ini ingin mengetahui darimana dan untuk apa bunga itu. Lama sekali ia mengikuti dan berakirlah di lereng gunung yang tak terlihat karena tertutup pohon-pohon besar berkanopi. Didapati oleh mata kepalanya sebuah gubuk hampir jatuh dan dua buah kuburan mungil yang dipenuhi bunga semboja.
Ternyata gadis tersebut adalah anak yatim piatu yang telah berjanji pada ayah dan ibunya untuk selalu memenuhi makamnya dengan bunga semboja. Semboja adalah bunga yang menghiasi rumah mereka dulu sebelum sebuah musibah menimpa keluarga mereka. Hingga akhirnya yang dapat diselamatkan hanya si gadis tersebut. Sebenarnya kerudung yang dipakainya adalah cara untuk menutupi bekas luka yang pernah menimpa dirinya. Sedangkan rontaan gadis tersebut karena sudah lama kuburan orang tuanya tak dihiasi bunga kesukaan keluarga mereka karena kekeringan yang melanda desa.
"Ayah, Ibu aku bawakan lagi bunga semboja untukmu. Aku mendapatkannya dari seorang pemanggul air yang menepati janjinya. Ia ternyata memberikanku berjuta-juta bunga. Dia baik sekali padaku. Semoga Ayah dan Ibu senang ya disana" curahan hati si gadis tersebut didepan nisan oran tuanya.
Mendengar hal tersebut si pemanggul air bertambah kaget ketika gadis tersebut berterima kasih padanya. Ia merasa belum pernah memberikan apapun untuknya. Lagipula dia berpikir jika orang seperti dia untuk membeli seikat saja sulit apalagi berjuta-juta.
Melihat gadis itu hendak beranjak, pria tersebut lekas pergi. Harapannya untuk membeli kendi yang indah gagal sudah. Dilain sisi ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri akan maksud si gadis itu. Dia pun pulang hendak memanggul air dengan keempat kendi setianya lagi. Ditengah perjalanan ia melihat banyak orang didesanya membawa bunga semboja kuning yang hanya bisa tumbuh didesanya. Tak hanya itu tiba-tiba didepannya terlihat gadis berkerudung merah itu. Ia nampak tersenyum padanya. Gadis ini mengungkapkan rasa terima kasih karena janji padanya yang ditepati bahkan melebihi harapan. Lalu gadis tersebut membawa pria pemanggul air ini ke jalan setapak tempat mereka bertemu pada awal kali. Tak disangka-sangka dan dinyana-nyana hamparan bunga semboja terlihat disana. Ternyata hamparan semboja nan indah itu tumbuh dari air dari rembesan kendi yang dibawa pria pemanggul air tersebut di sepanjang jalan setapak itu.