Monday, July 29, 2013

Seri #1 - Perkawinan Tak Sebaya

PERKAWINAN TAK SEBAYA

ilustrasi 


Lika-liku perkawinan seorang pemuda sabar dan gadis keras kepala di sebuah desa kecil yang menikah dari hasil ramalan si empunya. Bagaimana mereka bisa bersatu? Bagaimana anak cucu mereka kelak? Kepicikan apa yang dimiliki si gadis?
Bagaimana akhir cerita perkawinan ini?




(marci)            



                         


          Sebelah utara jalan perempatan desa Payaman berdiri bangunan rumah yang terdiri dari dua rumah yang berbentuk limas, sebuah kampung, sebuah dapur dan dimukanya berdiri sebuah lumbung disamping kandang lembu, dimuka pendopo menghampar plataran cukup luas sedang rumah tersebut dikelilingi oleh beraneka tanaman, itulah rumah Pak Karso suami Mbok Denok.
"mbokne" ujar Pak Karso kepada istrinya dimalam hari antara jam delapan malam.
          Ketika itu mereka berdua sedang duduk didepan dapur.
"Lima hari lagi tamu-tamu dari Sanan akan datang untuk ningset anak kita".
"Apakah segala-galanya sudah disiapkan?" tanya Pak Karso.
"Sudah! Ayam, kentang, roti, dan lain-lain untuk menjamu tamu dari Sanan sudah saya siapkan" jawab mbok Karso.
           Katiman nama calon menantu Pak Karso adalah anak Pak Dokarso Desa Sanan dari Kecamatan Pakel sebagai anak nomer lima diantara tujuh saudaranya. Rambut lemas, kulit coklat, hidung mancung, mata damar kanginan, dahinya lebar hal itu menunjukan ia bertabiat tenang, berpikir panjang terhadap sesuatu yang dihadapinya, sabar, dan bijak. Ia pun juga pernah belajar agama di Pesantren Keling, Kediri. Di sanalah ia digembleng ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
"Katiman, kau kini sudah selayaknya berumah tangga sebab umurmu sudah cukup. Kau sudah berumur dua puluh lima tahun lebih" kata ayahnya pada sore hari setelah ia pulang dari Pondok Pare.
"Bila Bapak menghendaki aku kawin akupun sedia menjalankan kapan saja" sahut Katiman.
"Darimana dan putra siapa gadis yang bapak calonkan kepada saya?" tanya Katiman selanjutnya.
"Itu putera Pak Karso, Desa Payaman, Kecamatan Durenan, kapan saja kau dapat mengamati, menjumpai dan akhirnya kau dapat menentukan pendapatmu terhadapnya" sambung Katiman.
           Kadimah nama gadis yang dicalonkan ayahnya adalah anak Pak Karso suami Mbok Denok Payaman. Mbah Sosro pun telah menyarankan agar kelak bila sudah dewasa Kadimah dijodohkan dengan Katiman putra Pak Dokarso Sanan. Kadimah berkulit sedikit kuning, berbadan pendek, mata tajam, rambut agak kaku, dahi kurang lebar yang menunjukan bahwa bertabiat keras, apa yang menjadi cita-citanya harus berhasil tanpa berpikir panjang, pantang mundur dalam segala hal. Kedua tabiat yang saling bertentangan ini dapat dikompromikan sehingga antara satu dengan lainnya dapat saling isi mengisi satu sama lain, sehingga menghasilkan kehidupan yang berimbang dan harmonis.
            Setelah Katiman mengamati gadis yang dicalonkan ayahnya tersebut dengan seksama ia mengambil keputusan mengiyakan terhadap pencalonan istrinya itu dan hal ini telah disampaikan kepada ayahnya.
"Kulo nuwun!" salam salah seorang dari lima orang wakil Pak Dokarso ketika sampai di depan rumah Pak Karso antara jam tujuh malam.
"Monggo!" jawab Pak Karso dari dalam rumahnya.
"Mari masuk dan persilahkan duduk" sambung pak Karso.
             Mereka masuk lalu duduk diatas kursi yang telah disediakan sedang ditengah-tengahnya sebuah meja. Diantara lima orang tamu dari Sanan itu termasuk Katiman sebagai calon mempelai.
"Kami lima orang datang kemari sebagai wakil Bapak Dokarso Sanan, kedatangan kami yang pertama menyampaikan salam Pak Dokarso sekeluarga kepada keluarga Bapak Karso" ujar salah seorang sebagai wakil Pak Dokarso setelah menyantap makanan dan minuman yang disuguhkan kepada mereka.
"Kedua meneruskan pencalonan putra Pak Dokarso yakni si Katiman dengan putri Bapak Karso, si Kadimah. Dengan disaksikan oleh saudara-saudara yang sekarang berada disini ini, kita seseti sekalipun guntur menggelegar, angin ribut mendahsyat dari manapun, dengan apapuntak akan menggoyahkan ikatan yang telah kita jalin" kata wakil Pak Dokarso.
"Saya dan saudara-saudara saya yang berada disamping saya ini" jawab Pak Karso.
"Telah menerima ikatan tersebut dengan sepenuh hati dan akan akan memegang teguh ikatan itu sekuat-kuatnya tak akan goyah oleh apapun kecuali dengan pemufakatan kedua pihak" sambung Pak Karso.
"Tentang tanggal, hari, peresmian perkawinan mempelai, kami serahkan kepada Bapak Karso, pihak kami hanya menyetujui saja" kata wakil Pak Dokarso.
            Kemudian mereka minta pamit dan diantarkan oleh Pak Karso bersama-sama saudaranya yang berada di sampingnya kedepan pendopo setelah makan bersama.
             Hari berganti bulan, bulan berganti tahun suara pesinden yang diselingi alunan irama gamelan menggema di angkasa sayup-sayup sampai itulah suara gamelan di pendopo Pak Karso menandakan bahwa pesta perkawinan anak perempuannya telah dimulai dengan tayuban dan pertunjukan wayang kulit pada hari berikutnya setelah dipersiapkan sebaik-baiknya .Hingga berduyun-duyunlah tamu yang datang laksana semut tiada henti menggilir.  
              Pak Karso sebagai orang yang terpandang di desanya itu selain sebagai petani yang cukup lumayan juga berdagang kopra dan termasuk orang berilmu kebatinan pula. Kadimah adalah satu-satunya anak perempuan diantara enam anaknya maka sudah selayaknya dilaksanakan semeriah mungkin. Kerbau yang disediakan untuk pesta perkawinan itu dua ekor besar-besar, dalang pesinden yang didatangkan, termasuk seniman-seniwati yang terkenal dan mahal ongkosnya, demikian pula tamu-tamu yang diundang selain dari daerah kabupaten Trenggalek juga daerah-daerah kabupaten lain.
              Perkawinan dilangsungkan secara adat di daerah itu antara jam dua belas lebih sepuluh menit atau sesudah tabuh bedug mempelai laki-laki datang dengan diiringi sekitar dua ratus orang pengiring laki-laki maupun perempuan. Dimana pengiring perempuan membawa beraneka macam oleh-oleh atau bawaan sebagian ditempatkan dalam marang, tenong, dan jodang (marang, tenong, jodang adalah tempat bawaan yang terbuat dari bambu, rotan, dan kayu) salah seorang pembawa jodang ada yang bernama Rakiman yang nantinya menjadi mantu Katiman.

Upacara Kemanten Dimulai

               Manten (mempelai) laki-laki kanan dan kirinya diapit kembar mayang (gagar mayang) yang dibawa oleh jejaka diiringi oleh pengiring laki-laki masuk ke kampung (kampung adalah rumah antara pendopo dan rumah induk) yang dipapag (dijemput) oleh manten perempuan yang diapit kembar mayang (gagar mayang) kanan kirinya yang dibawa oleh gadis (cewek) maka diadakan tukar menukar.
               Pak Dongke (orang yang dianggap ahli dalam pencarian hari yang baik dan yang tidak, jodeh, dan lain-lain) memimpin upacara perkawinan.
               Kedua mempelai mula-mula bersalaman, kemudian mempelai perempuan membasahi kaki mempelai laki-laki dengan air yang telah tersedia di bokor yang di dalamnya penuh bunga-bungaan. Telur ayam yang berada dalam takir yang berisi pula bermacam-macam benda cair sebagai sajen. Telur dipecah maka suara pengiring bergemuruh menandakan pecahlah kegadisannya dan akan lahirlah putra pertama. Lalu Pak Dongke mengucapkan mantra-mantra kemudian manten kedua diminumi air kendi yang ditutup daun suruh yang telah disediakan.
               Oleh Pak Dongke kedua dibawa kerumah induk dan diadakan upacara uyek-uyek ranti dimana tangan manten laki-laki diatas tangan manten perempuan dengan digoyang-goyangkan dibarengi nyanyian berisi doa agar kedua mempelai dapat hidup rukun untuk selama-lamanya. Setelah itu manten berdua didudukan dimuka kamar tengah menghadap para tamu dan diberi nasi kuning untuk dimakan berdua bersama, kemudian diumumkan kepada hadirin nama tua manten laki-laki adalah Sonorejo. Dimalam harinya disemarakan dengan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Permadi Kawin.
                Dibelakang dapur Pak Karso terhampar bermacam-macam tanaman, sayur-sayuran seperti terong, tomat, cai, seledri, dan lain-lain. Duduklah disana bersama Kadimah, Sailah yaitu saudara sepupu Kadimah yang sejak kecil merangkap pula sebagai teman akrabnya. Mereka duduk setelah sebelumnya membersihkan rumput dicelah-celah tanaman sayur-sayuran.
                Sengatan sang surya yang makin lama makin membara tanpa mengenal kasihan menambah panas perbincangan mereka.
"Yu ceplik" kata Pokonyok (nama samaran Sailah) kepada kadimah (nama samaran Ceplik).
"Bersihkan tangan dan kakimu kemudian berganti pakaian" ujar Pokonyok.
"Bukankah kini sudah hampir bedug? Kang Sono suamimu kukira sudah datang dari ladang atau sudah berada di kamar. lekaslah segala sesuatunya dihidangkan!" kata Sailah selanjutnya.
"Peduli amat he! Datanag dan tidak datang, pulang dan tidak pulang, itu urusannya sendiri" jawab Kadimah.
"Aneh bin ajaib Yu Ceplik ini" sambung Pokonyok.
"Bukankah Kang Sono suamimu yang syah, yang wajib kau layani baik lahir maupun batin? Sudah lebih satu setengah tahun kau tetap berlagak tahu tak menahu kepada Kang Sono saja, apakah hal yang demikian itu merupakan perbuatan yang terpuji? Kang Sono kurang apanya, orangnya manis, sabar, tabah hati, taat agama pokoknya sifat-sifat manusia yang terpuji ada padanya, dan hal ini telah diakui oleh semua gadis di desa ini" Pokonyok meneruskan kata-katanya.
"E,e,e kau sekarang menjadi ustadzah ya, tukang pidato mungkin, atau barangkali kau berbakat menjadi juru penerang? Sungguh hebat kau sekarang!" ejek Ceplik sembari mengkerutkan dahinya tanda kesal.
"Bila kau mau, bolehlah kau layani dia. Rugi apakah kau?" tambah ceplik dengan mata menentang Pokonyok.
"Seandainya Kang Sono meninggalkan rumah ini apakah Yu Ceplik tidak merasa kehilangan sesuatu?" kata Pokonyok perlahan agar Ceplik tidak makin lantang akan kata-katanya.
"Aneh, gadis-gadis di desa ini ingin mendekati dia untuk dibelas kasihani, tetapi Yu Ceplik malah sebaliknya, benarkah itu?" tanya Pokonyok selanjutnya.
"Itu to urusan bapak dan mbok, biar mereka berdua yang melayaninya. Mengapa sebelumnya bapak tidak menanyakan kepada saya akan ya atau tidaknya, tahu-tahu terus dikawinkan demikian saja. Siapa yang menjalani, aku atau bapak ataupun si mbok?" ujar si Ceplik dengan geram.
            Dalam keadaan tegang demikian itu tiba-tiba terdengar panggilan ibunya dari dapur.
"Kadimah, lekas kemari!"
            Kadimahpun lekas-lekas masuk ke dapur mendekati mboknya.
"Ada apa mbok?" tanya Kadimah.
"Suamimu sudah datang dari ladang sejak tadi mengapa kau masih ngobrol saja disutu? Ayo makanan ini segera kau bawa ke kampung untuk suamimu! perintah mboknya kepada Kadimah.
"Bawa sendiri ke kampung!" terus lalu.
"E,e, e, kau bandel ya?" keluh mboknya.
            Tetapi apa boleh buat dia adalah satu-satunya anak perempuan diantara enam anaknya. Ia tidak sampai hati jika bertindak secara tegas dan keras, ya karena rasa kasihan itulah si kadimah makin membandel, makin menjadi-jadi. Ibunya takut kalau-kalu ia lari tanpa pamit dari rumah ini, apakah hal itu tidak akan lebih berbahaya dan memalukan bapak, mbok, dan keluarganya. Dengan apakah noda itu ditutupinya.
             Sudak kesana kemari si mbok dan bapak carikan mantra tetapi hingga kini belum ada pertanda akan kerukunan antara si Sono dan Kadimah, mungkinkah ini suatu cobaan belaka seperti apa yang dikatakan Bapak Sosro bahwa itu merupakan tapabrata anaknya, bila mereka tahan cobaan ini  pasti akan membuahkan hasil yang cukup gemilang dan sebaliknya jika mereka tak tahan uji bersiaplah menelan keredupan.
"Ya, aku sekeluarga harus tahan uji terhadap godaan ini, tapi mantuku si Sono bagaimana jikalau hal ini tidak segera ditamatkan, dibenahi, dan diserasikan antara ia dan istrinya? Sudah berkali kali ia dinasehati oleh Bapak Sosro dan suamiku bahwa ia hendaknya sabar dan bijak terhadap semua ini. Lambat laun hati istrinya pasti akan tergugah karena bila berhasil melampaui cobaan ini maka pintu kebahagiaan akan terbuka lebar-lebar dengan sendirinya" kata hati Mbok Karso berbisik.
"Sailah, kemari!" seru mbok Karso setelah terperanjak dari lamunannya.
            Setelah Sailah mendekatinya, Mbok Karso menyuruhnya untuk membawakan serantang makanan untuk si Sono.
Sailah langsung bertanya "Memang kemana si Ceplik mbok?".
"Dia pergi, Ceplik tak mau mengantar makanan ini. Jangan kau hiraukan dia! Kau tau sendiri kan lagatnya. Namun bila dia sudah sadar tentu tidak akan berbuat seperti itu lagi".
            Sailah pun menuju kampung untuk membawakan serantang makanan kepada si Sono.
"Mengapa Yu Sailah yang membawa makanan ini ke saya?" tanya Sono.
"Kau tau sendiri bagaimana hubunganmu dengan Ceplik kan?" sambung Sailah
"Mudah mudahan saja Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Layaknya tetesan air hujan di padang pasirpun juga akan tiba pula" jawab Sono dengan suara lirih.
"Sungguh ia adalah orang yang patut dipuji dan disegani" tambah suara hati Sailah.
            Kemudian Sailah lekas menghidangkan makanan yang dibawanya tadi dan memperilahkan Sono untuk melahap dan menikmatinya.

Menyusun Siasat 

             Mbok Karso terus memikirkan berbagai cara untuk merukunkan si Karso dan Kadimah.
Kata Mbok Karso kepada Kadimah pada sore hari sekitar pukul 05.30 "nanti kau dengan Sailah aku suruh menyumbang ke rumah kakak mu ipe kang Suro jambe dengan membawa beras dan mihun dibokor dan uang Rp 2,- dan jam 06.30 suamimu saya suruh menjemputmu".
               Lalu Pak Karso berbicara empat mata dengan si Sailah bilamana Kadimah sudah sampai di rumah Pak Suro Jambe supaya Sailah lekas-lekas pulang biar Kadimah pulang bersama suaminya. Ini merupakan taktik Pak Karso untuk merukunkan satu dengan yang lainnya.
               Mbok suro jambe sendiri adalah saudara tua Sonorejo yang pada waktu itu mempunyai hajat menantu anak perempuannya yang tertua atau yang nomer satu yang dimeriahkan dengan menyembelih seekor kerbau dan pertunjukan wayang kulit.
"Kulo nuwun" salam kadimah di muka pintu dapur.
"Monggo" sahut Mbok Suro.
"Adiku ipe, mana suamimu?" tanya mbok Suro sambil memegang tangan kadimah erat hendak mengajak masuk ke rumah.
"Saya hanya bersama dengan saudara saya ini saja Sailah namnya" jawab Kadimah dengan muka memerah.
"Ya, tak jadi apa, mungkin suamimu di rumah amat sibuk" jawab Mbok Suro. 
            Mbok Suro sendiri sudah mendengar bahwa Kadimah dan Sonorejo hampir dua tahun belum atut. Karenanya ia selalu hati-hati dalam perkataannya agar tidak melukai hatinya.
"Silahkan menikmati minuman dan makanan yang sederhana ini" kata Mbok Suro sambil mengambilkan roti dari lodong ke piring Kadimah dan Sailah.
"Sudah, sudahlah mbakyu, saya akan mengambil sendiri" sahut Kadimah.
"Beginilah kebahagiaannya suami istri yang berumah tangga sendiri. Kemudiaan memiliki anak-anak yang tumbuh besar dan bangun tuhu terhadap orang tuanya. Terlebih bahagia bilamana salah seorang kita kawinkan dan dalam perkawinannya ini sanak saudara dan handai taulan berduyun-duyun menghadiri, sungguh bahagia dan bangga rasa hatiku dan hati suamiku" tutur Mbok Suro.
"Bagaimana tidak bahagia dan bangga?!"seru Mbok Suro berikutnya.
"Bahagia karena anak perempuan yang kutimang-timang sejak lahir taat kepada bapak-ibunya. Bangga karena dengan hasil cucuran keringat sendiri, kami bisa menghidangkan makanan dan minuman kepada ibu-bapak dan sanak saudara maupun teman-teman baik teman jauh maupun dekat" lanjutnya.
            Kadimah mendengarkan kata-kata tersebut dengan menundukan kepala sambil menggoyang-goyangkan jarinya. Rupanya tutur tinular mbaknyunya yang penuh hikmat itu menyengat hati kecilnya untuk mengenyahkan noda-noda yang menyelubungi hati nuraninya.
            Mbakyu Suro adalah orang yang sederhana, berkulit kuning lansep, rambutnya lemas, berbudi baik, dan mampu berkata-kata yang mengagungkan dan mentakjubkan. Ia berdua telah berhasil membina rumah tangga dengan baik dan berhasil. Tak ketinggalan mereka membangun empat buah rumah gedong diatas tanah pekarangan yang cukup luas dengan beragam jenis tanaman, sawah seluas empat hektar, dan pekarangan yang lain seluas kurang lebih empat hektar. Sungguh mereka adalah orang yang berhasil.
"Benarkah keberhasilan usaha dan rumah tangga adalah hasil kerja keras orang berdua yang saling isi mengisi? Apakah aku harus begitu? Tapi mengapa aku terus menghindari kenyataan selama ini? Haruskah aku menghindari kepicikan dari diriku selama ini?" ungkap hati kecil Kadimah yang bergejolak setelah mendengar kata-kata mbakyu ipenya.
          Tak lama, Sailah pamit kebelakang dan langsung pulang sendirian ke Payaman sesuai perintah Pak Karso tanpa sepengetahuan Kadimah. 
"Itu dia suamimu sudah datang menjemputmu" kata Pak Suro Jambe dari kampung kepada Kadimah yang duduk bersama Mbok Suro dan tamu-tamu perempuan lainnya. 
          Mengetahui hal tersebut Kadimah segera beranjak dari tempat duduk dan izin kebelakang. Ia mencari Sailah untuk diajak pulang. Setelah Sailah dicari kesana kemari dan tak ia temui Sailah, maka dia memutuskan langsung pulang tanpa pamit mbakyu dan kakak ipenya.
          Rupanya ia hanya menuruti kata hati kerasnya saja tanpa menimbang baik dan buruknya tindakan yang dilakukannya itu. Sekalipun dalam keadaan gelap tanpa kawan ia terus jalan dengan kencangnya supaya lekas sampai dirumah. Kata-kata indah yang mengandung hikmat mbakyu ipenya tadi terus menggoda pikiran dan hatinya dalam perjalanan pulangnya.
"Lho, mana Kadimah, tadi katanya kebelakang, kok tidak kembali?" tanya Mbok Suro.
"Wah rupanya ia pulang sendirian setelah tahu suaminya menyusul" kata Pak Suro menyambung.
"Sono, kau harus sabar, jangan putus asa karena istrimu belum cukup umur, kalau sudah cukup umur pikirannya tentu berubah menjadi berpikir secara dewasa pula, ini adalah suatu ujian bagimu, kalau kau lulus dalam ujian, ijazah pasti ditanganmu, kemenangan kau raih, sejengkal kau melangkah secepat kilat ia merangkulmu dimana kau berada disitu pula ia berada. Nah sekarang kau harus pulang mbuntuti istrimu dan setelah dirumah mertuamu ceritakan segala ini kepada ibu dan bapaknya dan salamku berdua kepada mereka berdua" jelas Pak Suro meyakinkan.
            Sonorejo setelah minta pamit mbakyunya dan kakak iparnya terus pulang mbuntuti istrinya. Setelah datang di rumah mertuanya ia melaporkan hal tersebut kepadanya.
"Siasat kita rupanya belum berhasil" kata pak Karso kepada Mbok karso setelah mantunya ke pendopo.
"Kalau siasat itu belum berhasil, ya, cari akal lagi, toh masih banyak jalan yang masih dapat kita tempuh" sambung Mbok Karso.
"Ya, masih banyak cara yang akan kita tempuh" ujar Pak Karso.
"Sudah hampir tiga thaun berjalan, untuk mengatutkan anak kita belum juga kita temukan maka kita harus terus mencari jalan yang cepat dan tepat sehingga tidak berlarut-larut, ingatlah kesabaran tentu ada batasanya, kuatkah Sonorejo menantikan jatuhnya hujan dipadang pasir?" tanya Mbok Karso.
"Mudah-mudahan ia tetap bersabar dan mudah-mudahan p[ula jalan menuju kerukunan anak kita segera ditemukan" ujar Pak karso.
"Hur...kete...kuk...kuk...kuk..." gema alunan perkutut yang bergantungan pada pohon pring yang menjulang ke angkasa berjajar-jajar, belah-menyebelah dimuka pendopo.
            Pak Karso mempunyai hobby memelihara burung perkutut, tidak kurang tiga puluh burung perkutut yang dipeliharanya, satu diantara burung-burung itu ada yang menjadi kesayangannya atau yang paling disayangi. Yang satu ini suaranya bersih, mulus, bertekuk tiga, dan anggun perawainya. Bila burung yang menjadi kesayangannya itu telah mengalun pada celah-celah daun dan menyengat telinga para pendengarnya terutama Pak Karso, ia akan lupa makan, minum, waktu, hari karena telah tertelan nyanyian merdu burung kesayangannya.
             Selain burung, Pak Karso juga hobby memelihara benda-benda bertuah seperti keris, batu akik, dan lain sebagainya. Lebih dari lima puluh keris dari berbagai empu dimilikinya.
"Kang karso" tegur Tapuro kepadanya saat duduk bersila menikmati alunan suara perkutunya dibelakang rumah.
              Tapuro berikut adik iparnya yang berbadan pendek, kekar, suara keras, rambut kaku, dahi sempit menunjukan perwatakannya yang keras, tegas, lagi berkemauan tinggi.
"Sekarang sudah jam dua siang, sudah makan siangkah Kang Karso?" tanya Tapuro sambil duduk didekat Pak Karso.
"Belum!" jawab Pak Karso bangun dari buaian alunan suara burung yang anggun itu.
"Kalau burung kesayanganku sudah menyanyikan lagu indahnya aku lupa segala-galanya sebagai perokok yang bila selesai menghisap rokok lupa makan, minum, bahkan kekasihnya" sambung Pak Karso.
"Kang Karso ada perkembangan baru pada diri Kadimah" kata Tapuro membenahi duduknya.
"Perkembangan baru apa?" tanya Pak Karso dengan sungguh-sungguh.
"Aku mendengar cerita dari Sailah bahwa sepulangnya Kadimah dari menyumbang ke rumah Kang Suro Jambe tempo hari sekarang agak berubah tabiatnya jadi suka termenung, menyendiri, dan terkadang menimang-nimang bantal sebagai anak kandungnya. Ada lagi suatu hal yang paling menyolok yaitu dalam tidurnya selalu menyebut-nyebut nama suaminya dengan mengatakan "benarkah kata-kata Mbakyu Suro itu? Haruskah orang berdua rasa bahagia dan bangga akan berhasil? Aku dan kau Kang Sono yang harus ada sekata menuju taman mahligai?".
"Betulnya demikian sungguh ini merupakan perkembangan baru yang hangat dan perlu mendapat dukungan lebih" ujar Pak Karso meyakinkan.
"Apakah kau punya cara lagi yang lebih jitu untuk menghasilkan kerukunan anak kita?" ujar Pak Karso seterusnya.
"Ada, dan jitu pula, percayalah kakang kepada saya, Insya Allah akan berhasil dengan baik. Aku minta bantuan japa mantra kepada mertuaku Ngunut untuk mendekatkan Kadimah dengan Sonorejo. Aku minta kakang dan mbakyu meninggalkan rumah ini selama empat atau lima hari entah ke Blitar hanya sekedar meninjau rumah Mbakyu Menik atau ke Wlingi bahkan kemanapun boleh asalkan kakang berdua sukai. Sedang keamanan rumah serahkan saja kepada mantumu Sonorejo dan istrinya Kadimah juga Sailah. Saya akan jadi pengawas mereka. Setelah japa mantra pengasihan dari mertuaku aku pasang pada malam harinya aku akan mempergunakan siasat suapaya tidak berulang kembali peristiwa mempelai pria tidur diatas dipan sedangkan istrinya tidur dibawah dipan samapai hampir tiga tahun tanpa diketahu orang tuanya sedikitpun. Maka peristiwa tersebut harus dihentikan dan berharap keduanya bisa tidur dalam satu dipan" terang Tapuro panjang lebar.
"Baiklah aku dan mbakyumu besok akan ke Blitar dan terus ke Wlingi. Cara apapun yang kau terapkan aku serahkan semua kepadamu" kata Karso tegas.
            Teng...teng...teng... jam yang bergantung di soko guru rumah berdentang tiga kali ini menunjukan tepat jam tiga malam pula, rasa hening dan sunyi sayup-sayup terdengar diselingi suara gonggongan anjing yang hilir berganti. Kini yang ada di rumah Pak Karso adalah Sonorejo yang tidur di kamar tidurnya dan Kadimah yang tidur bersama-sama Sailah di kamar lainnya. Setelah Kadimah tidur nyenyak, Sailah segera pergi meninggalkannya sendirian dan hanya lampu ublik kerlip-kerlip yang menemaninya. Ternyata disaat itulah japa mantra pengasihan dipasang ditempat yang telah ditentukan oleh Bapak mertua Tapuro. Tiba-tiba Kadimah terbangun dan ternganga melihat ular besar mendekatinya.
"O... Tuhan..." serunya.
            Ia meraba Sailah yang tadi tidur didekatnya ternyata tidak didapatinya lagi. Dan ular itupun terus mendekat ia semakin takut, bengong, dan kesadarannya kini benar-benar turun.
"Tolong...tolong... Kang Sono... Kang Sono... tolong... tolong..." ia pun terbangun dari pingsannya dan langsung berlari masuk kamar tidur suaminya dengan merebahkan diri kedalam pelukan suaminya.
"Mana ularnya, mana...!" Sonorejo keluar dan terus ke rumah induk mencari ular tersebut, namun ular sudah tidak ada.
"Ularnya sudah pergi, tidur disini saja kau jangan tidur disana lagi. Mungkin saja ularnya kembali lagi". Sonorejo mencoba menenangkan.
            Dengan rasa malu-malu ia terpaksa tidur di dipan yang biasa ditiduri suaminya sendirian, sedang Sonorejo duduk di kursi dekat dipan itu. Ia sengaja menjauhi dulu agar Kadimah tidak merasa tersinggung sehingga timbul lagi tabiat kerasnya. Dalam tidurnya itu Kadimah selalu terngiang pertanyaan jika kebahagiaan akan dicapai apabila ia dan suaminya saling bahu membahu.
"Bagaimana jadinya dengan peristiwa yang mengerikan initanpa adanya Kang Sonorejo? Berarti mulai detik ini aku dan suamiku harus membangun rasa saling mencintai satu sama lain. Aku rindu padamu..." dalam hati Kadimah bergeming.
            Namun denyut luluh dari hati kadimah nyatanya masih kalah dengan tabiat kerasnya sekalipun rasa belas kasihan kepada suaminya yang telah dibiarkan selama tiga tahun tersebut dibiarkan merana, buktinya pada malam kedua ia tetap tidur dikamar Sailah. Kadimah pun mengultimatum Sailah untuk tidak meninggalkannya sekalipun ia sudah terjaga.
             Jam tiga malam itu suasana kembali menjadi hening dan sepi. Tiba-tiba Kadimah bangun dari tidurnya. Dia terbangun karena seperti ada sesuatu tapi entah apa yang sengaja membangunkannya.
"Tolong......................" teriaknya kencang memecah malam.
             Ia melihat pocongan manusia terhuyung-huyung berjalan mendekatinya, terus mendekat dan semakin mendekat.
"Ada apa?" tanya Sonorejo sambil berlari kekamar Kadimah secepat mungkin.
"Itu ada wedon!" ujar Kadimah terbata-bata.
             Sonorejo berdiri sejenak kemudian melantunkan ayat dan menghilanglah pocongan itu.
"Pocongannya sudah lenyap, ayo kita ke kamar tidurku dan tidurlah disana biar aku yang menjagamu" kata Sonorejo mencoba menenangkan hati Kadimah.
             Dibangunkanlah Kadimah dari tempat duduknya dan diajaknya ia ke kamar Sonorejo. Kini ia hanya menuruti apa yang dilakukan oleh si suami".
"Memang seharusnya kaulah, Kang Sono satu-satunya orang didunia ini selain ayah dan ibuku yang harus kuhormati, kusegani, dan kukagumi, sebagai tempatku tuk berlindung, berbakti, dan mencurahkan kasih sayang. Mulai detik ini dengan disaksikan oleh apa yang ada diatas kita, dibawah kita, disamping kita, aku Kadimah binti Karso berjanji sumur hidupku aku tak akan lagi menyia-nyiakanmu dengan segala keegoisan dan perbuatan ku lagi kang. Aku berjanji hingga maut merenggut kita" tutur Kadimah sungguh-sungguh.
             Demikian janji dalam hati Kadimah dan kini ia benar-benar tergugah hatinya, sadar akan kewajibannya yang seharusnya ia lakukan pada suaminya. Tujuh bulan kemudian di rumah Pak Karso diadakan syukuran mitoni atas hamilnya anak pertama Kadimah yang dihadiri oleh Mbah Sasro, tak ketinggalan para anak kadang kinadang.
              Kesabaran, ketabahan, keteguhan hati, dan kemauan keras Sonorejo selama dua setengah tahun lebih maupun tapabrata untuk membina biduk rumah tangga yang harmonis, sejahtera, bahagia, dan penuh kebanggaan telah diwujudkannya.
              Tepat sekali ramalan Mbah Sasro pada saat Denok menanyakan perihal jodoh anaknya si Kadimah kelak. Ramalan Katiman alias Sonorejo dari Sanan oleh Mbah Sosro ternyata terbukti adanya. Kini anak cucu Sonorejo menjadi teladan dan pujian di daerah itu juga daerah-daerah lain.